♣ Hukum Seorang Wanita Menghilangkan Dan Mencukur Bulu Wajah [Alis, Bulu Mata Dan Bulu Halus Lainnya]


HUKUM SEORANG WANITA MENGHILANGKAN DAN MENCUKUR BULU-BULU WAJAH (ALIS, BULU MATA DAN BULU-BULU HALUS LAINNYA)
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Pertanyaan
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Ada seorang wanita yang menghilangkan dan mencukur bulu-bulu wajah (alis, bulu mata dan bulu-bulu halus lainnya). Apakah ketika itu wanita tersebut wajib menutup wajahnya ?

Jawaban.
Ya ! Wanita tersebut wajib menutup wajahnya. Mencukur bulu-bulu wajah ini merupakan perbuatan haram, sehingga wajib ditutup dengan cara menutup wajah tersebut.

Tapi dalam hal ini ada yang mengatakan bahwa mencabut bulu-bulu wajah itu boleh apabila hanya sedikit. Jika pendapat ini benar, maka tidak wajib menutup wajah. Pendapat yang kuat menurut saya adalah mencabut bulu-bulu wajah itu mutlak diharamkan walaupun sedikit.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

لَعَنَ اللَّهُ النَّا مِصَاتِ و الْمُتَنَمِّصَاتِ

“Allah melaknat perempuan-perempuan yang mencukur alis dan perempuan-perempuan yang minta dicukur alisnya”

Di akhir hadits ini diterangkan kenapa perempuan-perempuan tersebut dilaknat. Yaitu karena merubah ciptaan Allah dengan alasan keindahan/kecantikan.

Hadits ini menegaskan bahwa perempuan-perempuan tersebut dilaknat karena merubah ciptaan Allah, bukan masalah mencukur sedikit atau banyak. Jadi seandainya ada seorang wanita mencukur sedikit saja alisnya, dia pasti akan mendapat laknat. Karena dia telah melakukan perbuatan yang diancam laknat.

Hari ini ada sebagian ulama yang hanya mengharamkan mencukur alis saja. Sebagian ulama lain hanya mengharamkan mencukur bulu-bulu wajah saja. Sedangkan yang benar adalah mengamalkan hadits secara mutlak yaitu dua-duanya haram.

Maka tidak boleh bagi wanita ; apalagi laki-laki untuk mencabut (mencukur) bulu badannya, kecuali bulu-bulu yang memang disuruh mencukur (bulu kemaluan, bulu ketiak dan sebagian kumis). Hal ini berdasarkan dalil umum di atas yaitu dilarang merubah ciptaan Allah.

Ada sebuah kasus, misalnya seorang wanita yang lengannya berbulu. Dan suaminya tidak suka karena menganggap itu jelek. Dalam keadaan seperti ini bolehkan wanita tersebut mencukur bulu-bulu lengannya tersebut ? Jawabnya adalah : Tidak boleh, karena ini termasuk merubah ciptaan Allah. Dan ia harus ridha dengan bulu-bulu ciptaan Allah itu dan tidak merubahnya dengan cara mencukur, kecuali mencukur bulu-bulu yang dianjurkan yaitu bulu ketiak, bulu kemaluan dan lain-lain.

Sebagian wanita hari ini banyak yang tergoda dengan rambut palsu. Mereka membolehkan hal ini dengan alasan berhias untuk menyenangkan suami. Padahal hadits di atas jelas-jelas melarang hal ini. Bunyi terusan hadits tersebut adalah.

لَعَنَ اللَّهُ النَّا مِصَاتِ و الْمُتَنَمِّصَاتِ ….. لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلاَتِ وَالْمُسْتَوْ صِلاَتِ

“Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu, Allah melaknat orang yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya”

Disebutkan dalam As-Shahih bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengatakan bahwa anaknya telah dinikahi oleh seorang laki-laki tapi kemudian rontok rambutnya. Wanita tersebut bertanya bolehkah anaknya menyambung rambut dengan rambut lain ? Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلاَتِ وَالْمُسْتَوْ صِلاَتِ

“Allah melaknat wanita yang menyambung rambut, dan yang minta disambung rambutnya”

Sebagian orang mengatakan bahwa yang haram adalah khusus mencukur alis dan merenggangkan gigi. Pengkhususan seperti ini sama sekali tidak benar. Karena mencukur alis dan merenggangkan gigi itu bukan pengkhususan tapi bagian dari dalil umum bahwa Allah melaknat wanita-wanita yang merubah ciptaan Allah dengan alasan keindahan/kecantikan.

Dari kalimat terakhir ini kita bisa mengambil dua kesimpulan penting.

Pertama.
Perubahan yang dilaknat adalah perubahan untuk memperindah dan mempercantik diri. Tapi, jika perubahan tersebut untuk menolak kemudharatan (karena gatal-gatal, alergi, dll) maka hal ini tidak apa-apa untuk dilakukan.

Kedua.
Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Wanita-wanita yang merubah ciptaan Allah, mencakup semua jenis perubahan. Berupa apapun perubahan itu. Kecuali perubahan yang disyariatkan.

Dan harus diperhatikan, bahwa ini merupakan hukum yang umum bagi wanita dan laki-laki. Sebagian laki-laki tumbuh bulu rambut di bagian atas kedua pipinya, kemudian mereka mencukurnya. Hal ini termasuk yang dilarang oleh hadits di atas. Sebab itu, semua termasuk ciptaan Allah, dan ciptaan Allah itu pasti baik, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki yang memanjangkan sarungnya, lalu beliau berkata padanya : “Angkatlah sarungmu!”, ia berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya kedua betisku teramat kecil”, maka beliau berkata : “Semua ciptaan Allah itu baik”.

[Disalin dari kitab Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerjemah Adni Kurniawan, Penerbit Pustaka At-Tauhid]

http://almanhaj.or.id/content/1776/slash/0/hukum-seorang-wanita-menghilangkan-dan-mencukur-bulu-wajah-alis-bulu-mata-dan-bulu-halus-lainnya/

♣ Hukum Menyetir Mobil Bagi Wanita


HUKUM MENYETIR MOBIL BAGI WANITA

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah. Amma ba’du.

Banyak orang berbicara tentang wanita menyetir mobil di koran Al-Jazirah, padahal telah diketahui bahwa hal ini bisa menyebabkan berbagai kerusakan, dan hal ini pun tidak luput dari pengetahun orang-orang yang mempropagandakannya. Di antaranya adalah terjadinya khulwah, menampakkan wajah, campur baur dengan kaum laki-laki dan dilakukan berbagai marabahaya yang karenanya hal-hal tersebut dilarang. Syari’at yang suci telah melarang sarana-sarana yang bisa menyebabkan kepada sesuatu yang haram, syari’at menganggap sarana-sarana itu haram juga. Allah subhaanahu wa ta’ala telah memerintahkan para isteri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para isteri kaum mukminin untuk tetap tinggal di rumah, berhijab dan tidak menampakkan perhiasan kepada yang bukan mahramnya, karena semua ini (bila dilanggar) bisa menyebabkan pergaulan bebas yang merusak masyarakat.

Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.” [Al-Ahzab: 33]

Dalam ayat lainnya disebutkan, “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” [Al-Ahzab: 59].

Dalam ayat lainnya lagi disebutkan.

“Artinya : Dan katakanlah kepada wanita yang beriman ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang ber-iman supaya kamu beruntung.” [An-Nur: 31]

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pun telah bersabda.

“Artinya : Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita kecuali setanlah yang ketiganya.”[HR. At-Tirmidzi dalam Al-Fitan (2165), Ahmad (115) dari hadits Umar]

Karena itu, syari’at yang suci melarang semua faktor yang bisa menyebabkan kenistaan, di antaranya dengan larangan me-nuduh berbuat nista terhadap para wanita yang memelihara kesucian dirinya dan tidak berfikiran keji, dan menetapkan hu-kuman yang sangat berat bagi yang melontarkan tuduhan tanpa bisa membuktikan. Hal ini untuk melindungi masyarakat dari penyebaran faktor-faktor kenistaan. Menyetirnya wanita termasuk faktor-faktor yang bisa menimbulkan hal itu, ini sudah maklum, tapi ketidaktahuan tentang hukum-hukum syari’at dan tentang akibat-akibat buruk yang ditimbulkan oleh sikap menganggap en-teng sarana-sarana penyebab kemungkaran, padahal pada kenya-taannya telah banyak menimpa orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, mencintai pergaulan bebas, bersenang-senang dengan memandangi wanita-wanita yang bukan mahram-nya; semua ini menyebabkan kehanyutan dalam perkara tersebut dan yang serupanya, tanpa menyadari marabahaya di baliknya.

Allah subhaanahu wa ta’ala telah berfirman.

“Artinya : Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menu-runkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui’.” [Al-A’raf: 33]

Dalam ayat lainnya disebutkan.

“Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-Baqarah: 168-169]

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun telah bersabda.

“Artinya : Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih membahayakan kaum laki-laki daripada fitnah wanita.” [HR. Al-Bukhari dalam An-Nikah (5096), Muslim dalam Adz-Dzikr (2740)]

Dari Hudzifah bin Al-Yaman Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai kebaikan, sementara aku menanyakan tentang keburukan karena khawatir menimpa-ku. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, dulu kami dalam kondisi jahiliyah dan keburukan, lalu Allah memberi kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah keburukan itu ada lagi kebaikan?,’ beliau menjawab, ‘Ya. Dan saat itu ada pemandunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Apa pemandunya?’ beliau menjawab, ‘Suatu kaum yang menempuh cara selain caraku dan berperilaku tidak sesuai dengan petunjukku, engkau mengetahui mereka dan mengingkarinya.’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi?’ beliau menjawab, ‘Ya. Para penyeru di atas pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa menuruti mereka, akan dilemparkan ke dalamnya.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, terangkan ciri-cirinya.’ Beliau bersabda, ‘Baiklah. Itu suatu kaum dari golongan kita dan berbicara dengan bahasa kita.’ Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, bagai-mana bila aku mengalami masa itu?’ beliau bersabda, ‘Hendaknya engkau beserta jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.’ Aku berta-nya lagi, ‘Bagaimana bila tidak ada jama’ah dan tidak pula imam?’ Beliau menjawab, ‘Hindari semua golongan itu walaupun engkau harus berpegangan dengan akar pohon sampai mati engkau tetap seperti itu’.” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Manaqib (3606), Muslim dalam Al-Imarah (1847)]

Saya serukan kepada setiap muslim agar bertakwa kepada Allah dalam perkataan dan perbuatannya, dan hendaknya meng-hindari fitnah-fitnah dan orang-orang yang menyerukannya, menjauhi segala hal yang dimurkai Allah subhaanahu wa ta’ala atau bisa menimbulkan kemurkaanNya, dan benar-benar waspada agar tidak termasuk mereka yang disebutkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits yang mulia tadi. Semoga Allah melindungi kita dari keburukan fitnah dan para pelakunya, memelihara agama umat ini dan melindunginya dari keburukan para penyeru keburukan, serta menunjuki para penulis koran-koran kita dan semua kaum muslimin ke jalan yang diri-dhaiNya dan mengandung kebaikan bagi kaum muslimin serta keselamatan mereka di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas itu.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

[Majmu’ Al-Fatawa, juz 3, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerbit Darul Haq]

http://almanhaj.or.id/content/1837/slash/0/hukum-menyetir-mobil-bagi-wanita/

♣ Hukum Cadar (Dalil Yang Mewajibkan)


HUKUM CADAR (1)

Soal.
Apakah hukum cadar (menutup wajah) bagi wanita, wajib atau tidak?

Jawab.
Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan wajib, yang lain menyatakan tidak wajib, namun merupakan keutamaan.

Maka di sini -insya Allah- akan kami sampaikan hujjah masing-masing pendapat itu, sehingga masing-masing pihak dapat mengetahui hujjah (argumen) pihak yang lain, agar saling memahami pendapat yang lain.

DALIL YANG MEWAJIBKAN
Inilah secara ringkas dalil-dalil para ulama yang mewajibkan cadar bagi wanita.

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka. [An Nur: 31]

Allah Ta’ala memerintahkan kaum mukminat untuk memelihara kemaluan mereka, hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan [1].

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. [An Nur: 31]

Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” [2].

Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.

3. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka. [An Nur: 31]

Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya. Kalau menutupi dada dan lehernya saja wajibmaka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah?

4. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” [An Nur: 31]

Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan. [4]

5. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [An Nur: 60]

Wanita-wanita tua dan tidak ingin kawin lagi ini diperbolehkan menanggalkan pakaian mereka. Ini bukan berarti mereka kemudian telanjang. Tetapi yang dimaksud dengan pakaian di sini adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, pakaian yang dipakai di atas baju (seperti mukena), yang baju wanita umumnya tidak menutupi wajah dan telapak tangan. Ini berarti wanita-wanita muda dan berkeinginan untuk kawin harus menutupi wajah mereka. [5]

Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka.” (An Nur:60): “(Yaitu) jilbab”. [6]

Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dia berkata: “Kami menemui Hafshah binti Sirin, dan dia telah mengenakan jilbab seperti ini, yaitu dia menutupi wajah dengannya. Maka kami mengatakan kepadanya: “Semoga Allah merahmati Anda, Allah telah berfirman,

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)

Yang dimaksud adalah jilbab. Dia berkata kepada kami: “Apa firman Allah setelah itu?” Kami menjawab:

وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika mereka berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 60)

Dia mengatakan, “Ini menetapkan jilbab.” [7]

6. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ

“Dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” [An-Nur: 60]

Ini berarti wanita muda wajib menutup wajahnya, karena kebanyakan wanita muda yang membuka wajahnya, berkehendak menampakkan perhiasan dan kecantikan, agar dilihat dan dipuji oleh laki-laki. Wanita yang tidak berkehendak seperti itu jarang, sedang perkara yang jarang tidak dapat dijadikan sandaran hukum. [8]

7. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al Ahzab: 59]

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Allah memerintahkan kepada istri-istri kaum mukminin, jika mereka keluar rumah karena suatu keperluan, hendaklah mereka menutupi wajah mereka dengan jilbab (pakaian semacam mukena) dari kepala mereka. Mereka dapat menampakkan satu mata saja.” [9]

Qatadah berkata tentang firman Allah ini (QS. Al Ahzab: 59), “Allah memerintahkan para wanita, jika mereka keluar (rumah) agar menutupi alis mereka, sehingga mereka mudah dikenali dan tidak diganggu.” [10]

Diriwayatkan Ibnu Abbas berkata, “Wanita itu mengulurkan jilbabnya ke wajahnya, tetapi tidak menutupinya.” [11]

Abu ‘Ubaidah As-Salmani dan lainnya mempraktekkan cara mengulurkan jilbab itu dengan selendangnya, yaitu menjadikannya sebagai kerudung, lalu dia menutupi hidung dan matanya sebelah kiri, dan menampakkan matanya sebelah kanan. Lalu dia mengulurkan selendangnya dari atas (kepala) sehingga dekat ke alisnya, atau di atas alis. [12].

As-Suyuthi berkata, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” [13]

Perintah mengulurkan jilbab ini meliputi menutup wajah berdasarkan beberapa dalil: [14]

a). Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah: Pakaian yang luas yang menutupi seluruh badan. Sehingga seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.

b). Yang biasa nampak pada sebagian wanita jahiliah adalah wajah mereka, lalu Allah perintahkan istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka. Kata idna’ (pada ayat tersebut يُدْنِينَ -ed) yang ditambahkan huruf (عَلَي) mengandung makna mengulurkan dari atas. Maka jilbab itu diulurkan dari atas kepala menutupi wajah dan badan.

c). Menutupi wajah, baju, dan perhiasan dengan jilbab itulah yang dipahami oleh wanita-wanita sahabat.

d). Dalam firman Allah: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu”, merupakan dalil kewajiban hijab dan menutup wajah bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada perselisihan dalam hal ini di antara kaum muslimin. Sedangkan dalam ayat ini istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bersama-sama dengan anak-anak perempuan beliau serta istri-istri orang mukmin. Ini berarti hukumnya mengenai seluruh wanita mukmin.

e). Dalam firman Allah: “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Menutup wajah wanita merupakan tanda wanita baik-baik, dengan demikian tidak akan diganggu. Demikian juga jika wanita menutupi wajahnya, maka laki-laki yang rakus tidak akan berkeinginan untuk membuka anggota tubuhnya yang lain. Maka membuka wajah bagi wanita merupakan sasaran gangguan dari laki-laki nakal/jahat. Maka dengan menutupi wajahnya, seorang wanita tidak akan memikat dan menggoda laki-laki sehingga dia tidak akan diganggu.

8. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لاَّ جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي ءَابَآئِهِنَّ وَلآ أَبْنَآئِهِنَّ وَلآ إِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلاَ نِسَآئِهِنَّ وَلاَ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ وَاتَّقِينَ اللهَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدًا

“Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai istri-istri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” [Al Ahzab: 55]

Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah memerintahkan wanita-wanita berhijab dari laki-laki asing (bukan mahram), Dia menjelaskan bahwa (para wanita) tidak wajib berhijab dari karib kerabat ini.” Kewajiban wanita berhijab dari laki-laki asing adalah termasuk menutupi wajahnya.

9. Firman Allah.

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” [Al Ahzab: 53]

Ayat ini jelas menunjukkan wanita wajib menutupi diri dari laki-laki, termasuk menutup wajah, yang hikmahnya adalah lebih menjaga kesucian hati wanita dan hati laki-laki. Sedangkan menjaga kesucian hati merupakan kebutuhan setiap manusia, yaitu tidak khusus bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat saja, maka ayat ini umum, berlaku bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua wanita mukmin. Setelah turunnya ayat ini maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menutupi istri-istri beliau, demikian para sahabat menutupi istri-istri mereka, dengan menutupi wajah, badan, dan perhiasan [15].

10. Firman Allah:

يَانِسَآءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَآءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {32} وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى وَأَقِمْنَ الصَّلاَةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al Ahzab: 32-33]

Ayat ini ditujukan kepada para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi hukumnya mencakup wanita mukmin, karena sebab hikmah ini, yaitu untuk menghilangkan dosa dan membersihkan jiwa sebersih-bersihnya, juga mengenai wanita mukmin.

Dari kedua ayat ini didapatkan kewajiban hijab (termasuk menutup wajah) bagi wanita dari beberapa sisi: [16]

a). Firman Allah: “Janganlah kamu tunduk dalam berbicara” adalah larangan Allah terhadap wanita untuk berbicara secara lembut dan merdu kepada laki-laki. Karena hal itu akan membangkitkan syahwat zina laki-laki yang diajak bicara. Tetapi seorang wanita haruslah berbicara sesuai kebutuhan dengan tanpa memerdukan suaranya. Larangan ini merupakan sebab-sebab untuk menjaga kemaluan, dan hal itu tidak akan sempurna kecuali dengan hijab.

b). Firman Allah: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” merupakan perintah bagi wanita untuk selalu berada di dalam rumah, menetap dan merasa tenang di dalamnya. Maka hal ini sebagai perintah untuk menutupi badan wanita di dalam rumah dari laki-laki asing.

c). Firman Allah: “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” adalah larangan terhadap wanita dari banyak keluar dengan berhias, memakai minyak wangi dan menampakkan perhiasan dan keindahan, termasuk menampakkan wajah.

11. Ummu ‘Athiyah berkata:

أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ قَالَتِ امْرَأَةٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَيْسَ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haidh dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haidh menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab: “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.”” [HR. Bukhari dan Muslim]

Hadits ini menunjukkan kebiasaan wanita sahabat keluar rumah memakai jilbab. Dan Rasulullah tidak mengizinkan wanita keluar rumah tanpa jilbab, walaupun dalam perkara yang diperintahkan agama. Maka hal ini menjadi dalil untuk menutupi diri. [17]

12. ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلَاةَ لَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ

“Dahulu wanita-wanita mukmin biasa menghadiri shalat subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menutupi tubuh mereka dengan selimut. Kemudian mereka kembali ke rumah-rumah mereka ketika telah menyelesaikan shalat. Tidak ada seorang pun mengenal mereka karena gelap.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Menutupi diri merupakan kebiasaan wanita sahabat yang merupakan teladan terbaik. Maka kita tidak boleh menyimpang dari jalan mereka itu. [18]

13. Perkataan ‘Aisyah: “Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat wanita-wanita (di zaman ini) apa yang kita lihat, niscaya beliau melarang para wanita ke masjid, sebagaimana Bani Israil dahulu melarang para wanita mereka.” Diriwayatkan juga seperti ini dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu.

Dari riwayat ini diketahui bahwa setiap perkara yang mengakibatkan sesuatu yang berbahaya maka hal itu dilarang. Karena membuka wajah bagi wanita akan mengakibatkan bahaya, maka terlarang. [19]

14. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ يُرْخِينَ شِبْرًا فَقَالَتْ إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ قَالَ فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لَا يَزِدْنَ عَلَيْهِ

“Barang siapa menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Kemudian Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana para wanita membuat ujung pakaian mereka?” Beliau menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkan sejengka.l” Ummu Salamah berkata lagi: “Kalau begitu telapak kaki mereka akan tersingkap?” Beliau menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkan sehasta, mereka tidak boleh melebihkannya.” (HR. Tirmidzi, dan lainnya)

Hadits ini menunjukkan kewajiban menutupi telapak kaki wanita, dan hal ini sudah dikenal di kalangan wanita sahabat. Sedangkan terbukanya telapak kaki wanita tidak lebih berbahaya dari pada terbukanya wajah dan tangan mereka, maka ini menunjukkan wajibnya menutupi wajah dan tangan wanita. [20]

15. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا كَانَ عِنْدَ مُكَاتَبِ إِحْدَاكُنَّ مَا يُؤَدِّي فَلْتَحْتَجِبْ مِنْهُ

“Jika budak mukatab [21] salah seorang di antara kamu (wanita) memiliki apa yang akan dia tunaikan, maka hendaklah wanita itu berhijab (menutupi diri) darinya.” [HR. Tirmidzi dan lainnya]

Hadits ini menunjukkan kewajiban wanita berhijab (menutupi dirinya) dari laki-laki asing (bukan mahram). [22]

16. ‘Aisyah berkata:

كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ

“Para pengendara kendaraan biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya pada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain]

Wanita yang ihram dilarang memakai penutup wajah dan kaos tangan sebagaimana disebutkan di dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim). Sehingga kebanyakan ulama berpendapat, wanita yang ihram wajib membuka wajah dan tangannya. Sedangkan yang wajib tidaklah dapat dilawan kecuali dengan yang wajib pula. Maka kalau bukan karena kewajiban menutup wajah bagi wanita, niscaya tidak boleh meninggalkan kewajiban ini (yakni membuka wajah bagi wanita yang ihram). [23].

17. Asma’ binti Abi Bakar berkata: “Kami menutupi wajah kami dari laki-laki, dan kami menyisiri rambut sebelum itu di saat ihram.” [HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata: “Shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim”, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi]

Ini menunjukkan bahwa menutup wajah wanita sudah merupakan kebiasaan para wanita sahabat. [24]

18. ‘Aisyah berkata:

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

“Mudah-mudahan Allah merahmati wanita-wanita Muhajirin yang pertama-tama, ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. Al Ahzab: 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Jarir, dan lainnya)

Ibnu Hajar berkata (Fathul Bari 8/490): “Perkataan: lalu mereka berkerudung dengannya” maksudnya mereka menutupi wajah mereka.” [25].

19. Dari Urwah bin Zubair:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَفْلَحَ أَخَا أَبِي الْقُعَيْسِ جَاءَ يَسْتَأْذِنُ عَلَيْهَا وَهُوَ عَمُّهَا مِنَ الرَّضَاعَةِ بَعْدَ أَنْ نَزَلَ الْحِجَابُ فَأَبَيْتُ أَنْ آذَنَ لَهُ فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي صَنَعْتُ فَأَمَرَنِي أَنْ آذَنَ لَهُ

Dari ‘Aisyah bahwa Aflah saudara Abul Qu’eis, paman Aisyah dari penyusuan, datang minta izin untuk menemuinya setelah turun ayat hijab. ‘Aisyah berkata: “Maka aku tidak mau memberinya izin kepadanya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang maka aku memberitahukan apa yang telah aku lakukan, maka beliau memerintahkanku agar memberi izin kepadanya.” [HR. Bukhari dan lainnya]

Ibnu Hajar berkata (Fathul Bari 9/152): “Dalam hadits ini terdapat dalil kewajiban wanita menutupi diri dari laki-laki asing.”

20. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita adalah aurat, jika dia keluar, setan akan menjadikannya indah pada pandangan laki-laki.” [HR. Tirmidzi dan lainnya]

Kalau wanita adalah aurat, maka semuanya harus ditutupi. [26].

21. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Janganlah kamu masuk menemui wanita-wanita.” Seorang laki-laki Anshar bertanya: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana pendapat Anda tentang saudara suami (bolehkah dia masuk menemui wanita, istri saudaranya)? Beliau menjawab: “Saudara suami adalah kematian. (Yakni: lebih berbahaya dari orang lain).” [HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya]

Jika masuk menemui wanita-wanita bukan mahram tidak boleh, maka menemui mereka harus di balik tabir. Sehingga wanita wajib menutupi tubuh mereka, termasuk wajah. [27].

22. Perkataan ‘Aisyah dalam peristiwa Haditsul Ifki:

وَقَدْ كَانَ -صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ- يَرَانِي قَبْلَ أَنْ يُضْرَبَ الْحِجَابُ عَلَيَّ فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ عَرَفَنِي فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي

“Dia (Shawfan bin Al-Mu’athal) dahulu pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab atasku, lalu aku terbangun karena perkataannya: “Inna lillaahi…” ketika dia mengenaliku. Maka aku menutupi wajahku dengan jilbabku.” [HR. Muslim]

Inilah kebiasaan Ummahatul mukminin, yaitu menutupi wajah, maka hukumnya meliputi wanita mukmin secara umum sebagaimana dalam masalah hijab. [28]

23. Aisyah berkata:

خَرَجَتْ سَوْدَةُ بَعْدَ مَا ضُرِبَ عَلَيْهَا الْحِجَابُ لِتَقْضِيَ حَاجَتَهَا وَكَانَتِ امْرَأَةً جَسِيمَةً تَفْرَعُ النِّسَاءَ جِسْمًا لَا تَخْفَى عَلَى مَنْ يَعْرِفُهَا فَرَآهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ يَا سَوْدَةُ وَاللَّهِ مَا تَخْفَيْنَ عَلَيْنَا فَانْظُرِي كَيْفَ تَخْرُجِينَ

“Setelah diwajibkan hijab pada Saudah, dia keluar (rumah) untuk menunaikan hajatnya, dia adalah seorang wanita yang besar (dalam riwayat lain: tinggi), tubuhnya melebihi wanita-wanita lainnya, tidak samar bagi orang yang mengenalnya. Lalu Umar melihatnya, kemudian berkata: “Hai Saudah, demi Allah engkau tidaklah tersembunyi bagi kami, perhatikanlah bagaimana engkau keluar!” [HR. Muslim]

Karena Umar mengetahui Saudah dengan tinggi dan besarnya, maka ini menunjukkan wajahnya tertutup. [29]

24. Terjadinya ijma’ tentang kewajiban wanita untuk selalu menetap di rumah dan tidak keluar kecuali jika ada keperluan, dan tentang wanita tidak keluar rumah dan lewat di hadapan laki-laki kecuali dengan berhijab (menutupi diri) dan menutup wajah. Ijma’ ini dinukilkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, Imam Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan lainnya. [30]

25. Banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh terbukanya wajah wanita. Seperti wanita akan menghiasi wajahnya sehingga mengundang berbagai kerusakan; hilangnya rasa malu dari wanita; tergodanya laki-laki; percampuran laki-laki dengan wanita; dan lain-lainnya. [31]

26. Bantahan terhadap dalil-dalil yang membolehkan wanita membuka wajah secara ringkas:[32]

a). Dalil-dalilnya shahih dan jelas penunjukan dalilnya. Tetapi dalil-dalil itu telah mansukh (dihapus hukumnya) dengan ayat yang mewajibkan hijab yang turun pada tahun 5 H, atau itu dilakukan oleh wanita tua yang tidak wajib berhijab, atau di hadapan anak kecil yang belum tahu aurat wanita.
b). Dalil-dalilnya shahih tetapi tidak jelas penunjukan dalilnya. Sehingga tidak kuat melawan dalil-dalil yang mewajibkan wanita menutup wajahnya. Sedangkan yang wajib adalah mengembalikan dalil-dalil mutasyabih (maknanya tidak pasti) kepada yang muhkam (maknanya pasti).
c). Dalil-dalilnya jelas penunjukan dalilnya tetapi tidak shahih, sehingga tidak dapat diterima.

Ringkasan Dalil-Dalil di Atas

Inilah ringkasan dalil-dalil para ulama yang mewajibkan hijab. Jika disimpulkan dalil-dalil itu, maka dapat dikelompokkan pada beberapa point:

1. Menjaga kemaluan hukumnya wajib, sedangkan menutup wajah termasuk sarana untuk menjaga kemaluan, sehingga hukumnya juga wajib.
2. Perintah Allah dan Rasul-Nya kepada wanita untuk berhijab (menutupi diri) dari laki-laki selain mahramnya. Perintah hijab ini meliputi menutup wajah.
3. Perintah Allah dan Rasul-Nya kepada wanita untuk memakai jilbab. Jilbab ini meliputi menutup wajah.
4. Perintah Allah kepada wanita untuk menutupi perhiasannya, ini mencakup menutupi wajah.
5. Ijma yang mereka nukilkan.
6. Qiyas. Yaitu kalau wanita wajib menutupi telapak kakinya, lehernya, dan lainnya karena dikhawatirkan akan menimbulkan godaan, maka menutup wajah wanita lebih wajib.
7. Kebiasaan para wanita sahabat, termasuk Ummahatul mukminin, menutupi wajah mereka.

Di Antara Ulama Zaman Ini Yang Mewajibkan Cadar

Di antara para ulama zaman ini yang menguatkan pendapat ini adalah: Syaikh Muhammad As-Sinqithi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Mushthafa Al-Adawi dan para ulama lainnya. Inilah sedikit penjelasan tentang dalil-dalil para ulama yang mewajibkan cadar (menutup wajah) bagi wanita. Selanjutnya akan kita sampaikan dalil-dalil para ulama yang tidak mewajibkan cadar.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun VI/1423H/2002. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Risalah Al-Hijab, hal 7, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Darul Qasim.
[2]. Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al Adawi, Jami’ Ahkamin Nisa’ IV/486
[3]. Risalah Al-Hijab, hal 7-8, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Darul Qasim.
[4]. Risalah Al-Hijab, hal 9, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Darul Qasim
[5]. Risalah Al-Hijab, hal 10, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Darul Qasim.
[6]. Kedua riwayat ini dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/523
[7]. Riwayat Al-Baihaqi. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/524
[8]. Risalah Al-Hijab, hal 11, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin, Darul Qasim
[9]. Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan bahwa perawi riwayat ini dari Ibnu Abbas adalah Ali bin Abi Thalhah yang tidak mendengar dari ibnu Abbas. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/513
[10]. Riwayat Ibnu Jarir, dihasankan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/514
[11]. Riwayat Abu Dawud, Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan: Hasan Shahih. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/514
[12]. Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/513
[13]. Hirasah Al-Fadhilah, hal 51, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, Darul ‘Ashimah
[14]. Hirasah Al-Fadhilah, hal 52-56, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, Darul ‘Ashimah
[15]. Hirasah Al-Fadhilah, hal: 46-49, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, Darul ‘Ashimah
[16]. Hirasah Al-Fadhilah, hal 39-44, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, Darul ‘Ashimah
[17]. Risalah Al Hijab, hal 15, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Darul Qasim
[18]. Risalah Al Hijab, hal 16-17, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Darul Qasim
[19]. Risalah Al Hijab, hal 17, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, pDarul Qasim
[20]. Risalah Al Hijab, hal 17-18, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Darul Qasim.
[21]. Budak yang ada perjanjian dengan tuannya bahwa dia akan merdeka jika telah membayar sejumlah uang tertentu -pen
[22]. Risalah Al Hijab, hal 18, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Darul Qasim
[23]. Risalah Al Hijab, hal 18-19, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Darul Qasim
[24]. Hirasah Al-Fadhilah, hal 68-69, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, Darul ‘Ashimah
[25]. Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 69, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
[26]. Hirasah Al-Fadhilah, hal 74-75, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, Darul ‘Ashimah.
[27]. Hirasah Al-Fadhilah, hal 75, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, Darul ‘Ashimah
[28]. Hirasah Al-Fadhilah, hal 72, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, Darul ‘Ashimah
[29]. Jami Ahkamin Nisa’ IV/486, Syaikh Mushthafa Al-Adawi
[30]. Hirasah Al-Fadhilah, hal 38, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah
[31]. Risalah Al Hijab, hal 20-24, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Darul Qasim.
[32]. Hirasah Al-Fadhilah, hal 82-83, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, Darul ‘Ashimah.

http://asysyariah.com/emansipasi-atau-deislamisasi/

♣ Hukum Membuka Aurat Bagi Seorang Perempuan Terhadap Perempuan Lainnya


HUKUM MEMBUKA AURAT BAGI SEORANG PEMBANTU (PEREMPUAN) TERHADAP TUAN RUMAH YANG PEREMPUAN.
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kami mempunyai pembantu wanita, bolehkah ia membuka auratnya di depan para penghuni rumah yang perempuan, perlu diketahui ia adalah wanita muslimah?

Jawaban
Seorang perempuan kepada perempuan lain, boleh saja melihat mukanya, kepala, kedua tangannya, lengan bawah, kedua kakinya dan betisnya baik ia itu muslim ataupun kafir. Berdasarkan pendapat yang benar dalam penafsiran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

أَوْ نِسَائِهِنَّ atau wanita-wanita” [An-Nur : 31]

Bahwasanya yang dimaksud wanita di sini adalah Al-Jins (jenis) bukan Al-Wafsu (sifat). Namun ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan wanita-wanita di sini adalah wanita-wanita Islam, dengan demikian tidaklah boleh bagi seorang wanita Islam membuka aurat kepada wanita kafir. Dan yang tepat adalah yang dimaksudkan dengan kata wanita-wanita di dalam ayat tersebut adalah Al-Jins (jenisnya) yaitu wanita-wanita dan yang termasuk jenis wanita, dengan demikian boleh bagi perempuan muslim membuka sebagian auratnya kepada wanita kafir.

Disini saya jelaskan pada satu masalah bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perempuan melihat aurat perempuan lain, lalu sebagian wanita menyangka boleh saja seorang wanita memakai pakaian-pakaian pendek atau ketat yang tidak sampai ke lutut dan boleh memakai baju yang terlihat bagian dadanya sehingga tampak lengan atasnya, dada dan lehernya. Pendapat yang demikian salah, karena hadits ini menjelaskan ketidak-bolehan wanita melihat aurat perempuan lain, maka yang dibicarakan di sini adalah yang melihat bukan yang memakai, dan apapun bagi yang memakai maka wajib memakai pakaian yang menutup tubuhnya.

Adapun pakaian-pakaian isteri-isteri para sahabat sampai kepada pergelangan tangan, kaki dan kedua mata kaki, dan kerap kali ketika hendak pergi ke pasar, mereka memakai pakaian yang panjang sampai menutupi perbatasan hasta kaki. Demikian itu itu untuk menutupi kedua kaki mereka. Maka di sini terdapat perbedaan antara memakai dan melihat, yaitu bilamana seorang perempuan memakai pakaian yang menutupi auratnya, dan ini mengangkat pakaiannya karena suatu hajat atau lainnya, lantas terbukalah betisnya maka tidaklah haram bagi perempuan lain melihatnya.

Demikian pula bilamana perempuan tersebut berada di antara perempuan-perempuan lain, sedangkan ia memakai pakaian (baju) yang menutup auratnya. Lalu kelihatan payudaranya, karena ia ingin menyusukan anaknya, ataupun kelihatan dadanya, karena suatu sebab, maka yang demikian tidaklah mengapa bila kelihatan di depan mereka. Adapun wanita yang sengaja memakai pakaian yang pendek, maka yang demikian tidak boleh, karena hal tersebut mengandung keburukan dan kerusakan.

[Durus Wa Fatawa Haramil Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/264]

HUKUM MENAMPAKKAN RAMBUT DI HADAPAN WANITA NON MUSLIMAH

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bolehkah wanita membuka rambutnya di hadapan wanita-wanita non muslim, sedangkan mereka menceritakan kondisinya kepada kerabat laki-laki mereka yang juga bukan muslim?

Jawaban.
Pertanyaan ini berdasar pada perselisihan para ulama tentang penafsiran firman Allah.

” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita ..” [An-Nur ; 31]

Kata ganti dalam ayat أَوْ نِسَائِهِنَّ“ atau wanita-wanita, para ulama berselisih pendapat tentangnya, sebagian menafsirkan sebagai Al-Jins, yang maksudnya adalah jenis wanita secara umum. Ada yang menafsirkannya dengan Al-Wasfu (sifat), yaitu hanya wanita-wanita yang beriman saja. Menurut pendapat pertama, diperbolehkan bagi wanita untuk menampakkan rambutnya dan wajahnya di hadapan para wanita kafir dan tidak diperbolehkan menurut pendapat kedua. Kami cenderung memilih pendapat pertama, karena lebih mendekati kebenaran. Karena seluruh wanita itu sama, tidak berbeda antara kafir dan muslimah, apabila tidak dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah.

Adapun apabila dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, misalnya wanita yang melihat akan memberitahukan kondisinya kepada kerabat laki-laki-lakinya, maka kekhawatiran timbulnya fitnah lebih didahulukan, dan tidak diperbolehkan bagi wanita untuk menampakkan sesuatu dari tubuhnya, semisal badannya, kedua kakinya, rambutnya dan lainnya di hadapan wanita lain, baik itu wanita muslimah atau non muslimah.

[Fatawal Mar’ah 1/73]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Ahmad Amin Syihab, Penerbit Darul Haq]

http://almanhaj.or.id/content/1878/slash/0/hukum-membuka-aurat-bagi-seorang-perempuan-terhadap-perempuan-lainnya/

♣ Hukum Menyetir Mobil Bagi Wanita, Benarkah Bahayanya Lebih Ringan?


HUKUM MENYETIR MOBIL BAGI WANITA, BENARKAH BAHAYANYA LEBIH RINGAN?
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Saya mohon penjelasan tentang hukum wanita menyetir mobil, dan bagaimana pendapat Syaikh tentang pendapat yang menyatakan bahwa wanita menyetir mobil itu bahayanya lebih ringan daripada menaikinya hanya bersama supir yang bukan mahramnya?

Jawaban
Untuk mengetahui jawaban pertanyaan ini perlu melalui dua kaidah yang telah dikenal oleh ulama kaum muslimin.

Kaidah pertama: Bahwa apa yang mengarah kepada yang haram maka hukumnya haram.
Kaidah kedua: Bahwa mencegah suatu kerusakan, -meski mengharuskan hilangnya suatu maslahat baik yang setingkat atau yang lebih besar- lebih diutamakan dari-pada meraih beberapa maslahat.

Dalil kaidah pertama adalah firman Allah Azza wa Jalla,

“Artinya : Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” [Al-An’am: 108]

Allah Subhaanahu wa Ta’ala melarang mencela sesembahan-sesembahan kaum musyrikin walaupun mencelanya itu suatu maslahat, tapi hal ini bisa menyebabkan dicelanya Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Dalil kaidah kedua, firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya’.” [Al-Baqarah: 219]

Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengharamkan khamr dan judi walaupun kedua hal ini mengandung manfaat, hal ini untuk mencegah kerusakan yang diakibatkan oleh kedua hal tersebut.

Berdasarkan kedua kaidah ini jelaslah hukum wanita menyetir mobil, bahwa wanita menyetir mobil mengandung banyak kerusakan, di antaranya; penanggalan hijab, karena menyetir mobil itu harus dengan membukakan wajah, padahal wajah itu bagian yang bisa menimbulkan fitnah; menjadi pusat pandangan kaum laki-laki, karena wanita itu tidak dianggap cantik atau jelek kecuali dengan wajahnya. Maksudnya, jika disebut cantik (bagus) atau jelak, pikiran orang akan langsung tertuju kepada wajah, sebab, bila yang dimaksud itu hal lainnya, maka harus disertai dengan kata penentu, misalnya bagus tangannya, bagus rambutnya, bagus kakinya. Dengan begitu bisa diketahui bahwa wajah adalah titik yang dimaksud dengan ungkapan penilaian.

Boleh jadi seseorang mengatakan, Seorang wanita bisa menyetir mobil tanpa mengenakan penutup muka tapi dengan mengenakan kacamata hitam. Jawabannya, ini berbeda dengan kenyataan para wanita yang gemar menyetir mobil. Silahkan tanya orang yang pernah melihat mereka di negara-negara lain. Yang jelas, itu bisa diterapkan pada mulanya, namun tidak berlangsung lama, bahkan dalam waktu singkat akan segera berubah menjadi seperti kebiasaan para wanita di negara-negara lain. Begitulah kebiasaan fase perubahan, mulanya dirasa enteng, namun kemudian berubah dan menyimpang menjadi marabahaya yang tidak bisa diterima.

Kerusakan lainnya ; Hilangnya rasa malu, padahal malu itu bagian dari iman, sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Lagi pula, malu adalah akhlak mulia yang sesuai dengan tabi’at wanita dan bisa menjaganya dari fitnah. Karena itu, ada pepatah mengatakan: Lebih malu daripada gadis perawan di rumahnya. Jika rasa malu telah sirna dari seorang wanita, jangan tanya lagi akibatnya.

Kerusakan lainnya : Bisa menyebabkannya sering keluar rumah, padahal rumahnya itu lebih baik baginya, sebagaimana telah dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sering keluarnya itu karena para penggemar nyetir itu memandangnya sebagai suatu kesenangan. Karena itu anda dapati mereka berjalan-jalan dengan mobil mereka ke sana ke mari tanpa kebutuhan karena mereka merasakan kesenangan dengan menyetir.

Kerusakan lainnya : Bahwa wanita bisa bebas pergi ke mana saja, kapan saja, semaunya, bahkan tanpa tujuan yang jelas, karena ia sendirian di dalam mobil, kapan saja, jam berapa pun, baik siang maupun malam, bahkan mungkin bisa sampai larut malam. Jika mayoritas orang tidak bisa menerima hal ini pada para pemuda, lebih-lebih lagi pada para pemudi yang pergi semaunya, ke kanan dan ke kiri, seluas negerinya, bahkan mungkin hingga keluar.

Kerusakan lainnya : Bisa menyebabkannya mudah ngambek terhadap keluarga dan suaminya karena sebab sepele di rumah, lalu keluar rumah dan pergi dengan mobilnya ke tempat mana saja yang dianggap bisa menenangkan jiwanya. Ini sering terjadi pada sebagian pemuda, padahal mereka lebih tabah daripada wanita.

Kerusakan lainnya : Bisa menyebabkan terjadinya fitnah di berbagai tempat perhentian, misalnya, berhenti saat lampu lalu lintas menyala merah, berhenti di pom bensin, berhenti di tempat pemeriksaan, berhenti di tengah kerumunan kaum laki-laki karena terjadi pelanggaran atau kecelakaan, berhenti di tengah jalan karena ada kerusakan sehingga ia harus memperbaikinya. Apa yang terjadi saat itu? Bisa jadi ia berjumpa dengan seorang laki-laki yang menawarkan jasa untuk membantunya, lebih-lebih jika si wanita memang sangat butuh bantuan.

Kerusakan lainnya : Semakin ramainya kendaraan di jalanan atau terhalanginya sebagian pemuda dalam menyetir mobil, padahal mereka lebih berhak dan lebih layak daripada wanita.

Kerusakan lainnya : Banyak terjadi kecelakaan, karena pada dasarnyaa, tabiat wanita itu lebih lemah dan lebih pendek pertimbangannya daripada laki-laki, jika terancam bahaya ia akan bingung bertindak. Kerusakan lainnya: Bisa menjadi penyebab pemborosan, karena tabiat wanita selalu ingin melengkapi dirinya, baik berupa pakaian maupun lainnya. Tidakkah anda lihat kecenderungan wanita terhadap pakaian? Setiap kali muncul desain baru, yang lama dicampakkannya dan segera beralih kepada yang baru, walaupun yang baru itu modelnya tidak lebih bagus dari yang lama. Tidakkah anda lihat kamarnya, hiasan-hiasan apa yang digantungkan pada dinding-dindingnya? Tidakkah anda lihat kosmetik-kosmetiknya dan alat-alat kecantikan lainnya? Dengan mengkiaskan ke situ, dalam urusan mobil juga bisa begitu, setiap kali muncul model baru, ia segera meninggalkan yang lama dan beralih kepada yang baru.

Adapun mengenai ungkapan dalam pertanyaan tadi yang menyebutkan: bagaimana pendapat Syaikh tentang pendapat yang menyatakan bahwa wanita menyetir mobil itu bahayanya lebih ringan daripada menaikinya hanya bersama supir yang bukan mahramnya? Menurut saya, keduanya sama-sama berbahaya, salah satunya memang lebih membahayakan, tapi tidak ada bahaya yang harus ditempuh di antara keduanya itu. Saya merasa cukup panjang dalam memberikan jawaban ini, karena memang cukup banyak kekacauan seputar menyetirnya wanita, di samping tekanan yang bertubi-tubi terhadap masyarakat Saudi yang dikenal memelihara agama dan akhlaknya untuk mendukung dan membolehkan wanita menyetir mobil. Ini tidak aneh jika dilakukan oleh musuh yang mengincar negara ini yang menjadi sumber Islam, musuh-musuh Islam itu memang ingin menguasainya. Tapi sungguh sangat aneh bila itu dilakukan oleh kaum dari bangsa kita sendiri, yang berbicara dengan bahasa kita dan sama-sama bernaung di bawah bendera kita, mereka itu kaum yang terpesona dengan kamajuan materi negera-negara kafir, kagum dengan moral bangsa-bangsa kafir yang melepaskan diri dari norma-norma yang mulia ke norma-norma yang nista, sehingga mereka menjadi kaum yang sebagai-mana dikatakan Ibnul Qayyim dalam bukunya An-Nuniyah:

“Lari dari naluri yang mereka diciptakan dengan itu,
Lalu menuruti naluri nafsu dan setan”

Orang-orang itu mengira, bahwa negara-negara kafir itu telah mencapai kemajuan materi karena kebebasan tersebut, padahal kebebasan itu hanya karena kejahilan mereka dan ketidak tahuan sebagian besar mereka tentang hukum-hukum syari’at dan dalil-dalilnya baik yang berupa nash maupun pandangan, serta ketidaktahuan mereka tentang hikmah-hikmah yang mengandung kemaslahatan bagi makhluk dalam kehidupannya, saat kemba-linya (kepada Tuhan) dan tercegahnya berbagai kerusakan. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dan mereka ke jalan yang mengandung kesejahteraan dunia dan akhirat.

[Dari fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin yang beliau tandatangani]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Edisi Indonesiap Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin, Penerbit Darul Haq]

http://almanhaj.or.id/content/1911/slash/0/hukum-menyetir-mobil-bagi-wanita-benarkah-bahayanya-lebih-ringan/

♣ Perginya Para Wanita Ke Salon Kecantikan


PERGINYA PARA WANITA KE SALON KECANTIKAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin ditanya : Dewasa ini banyak terjadi perginya puteri-puteri muslimah ke salon kecantikan untuk membentuk rambut dengan aneka ragam mode. Di antara mode rambut yang sedang trend di kalangan remaja puteri adalah berasal dari “Kisah Kariyah”, yaitu kisah yang diambil dari majalah mode ala Negeri Thailand yang banyak tersebar di pasaran. Di antaranya mengkriting rambut, yaitu mengesatkannya dengan mode ala Amerika. Dan tidak tersembunyi lagi bagi Anda (Syaikh), bahwa ini semua termasuk dari tasyabbuh (menyerupai) dengan para wanita kafir.

Di antara kebiasaan pekerja salon adalah memakaikan berbagai dempulan (olesan) wajah, mencukur alis mata, dan rambut lainnya yang memakan banyak waktu serta membutuhkan biaya besar hingga sampai pada batasan israaf (berlebihan dalam menghamburkan harta) dan mubadzir.

Kami mengharapkan penjelasan hukum ini secara detail karena menyebarnya permasalahan seperti ini di kalangan remaja puteri. Semoga dengan fatwa ini, Allah selamatkan sebagian remaja puteri kita yang tertipu dengan mode-mode barat yang menyebabkan mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa mereka adalah para muslimah yang mengharapkan Surga dan takut akan Neraka!

Jawaban.
Segala puji hanya milik Allah Rabb alam semesta. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para Sahabatnya, amma ba’du.

Sebelum saya menjawab pertanyaan ini ada hal penting yang harus diketahui oleh setiap individu muslim bahwa musuh-musuh Islam akan selalu berusaha membuat makar terhadap Islam dan kaum muslimin dengan berbagai cara dan pada setiap masa. Kita juga mengetahui bahwa orang kafir telah banyak menjajah negara-negara Islam dengan kekuatan senjata, ketika Allah me-ngeluarkan mereka dari negara-negara tersebut mereka pun berupaya memerangi kaum muslimin dengan merusak pemikiran dan akhlaknya. Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan dalam al-Qur-an dan as-Sunnah tentang larangan dan peringatan keras untuk bersekutu dengan orang-orang kafir dalam hal kegiatan-kegiatan yang merupakan ciri khas mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah me-nyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” [Al-Maa-idah/5: 77]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampai-kan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang; padahal sesungguh-nya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.” [Al-Mumtahanah/60: 1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain, barangsiapa di antara kamu meng-ambil mereka sebagai pemimpin, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” [Al-Maaidah/5: 51]

Saya sampaikan kedua ayat ini bukan karena kaum muslimin menjadikan Yahudi dan Nasrani serta musuh-musuh Allah sebagai pemimpin semata. Akan tetapi karena kaum muslimin tasyabbuh terhadap bentuk dan pakaian yang menyebabkan timbulnya kecintaan terhadap mereka, mengagung-agungkan dan berjalan menurut jalan yang mereka kehendaki. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras dengan sabdanya:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

“Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.”[1]

Dan sudah menjadi kewajiban bagi kaum muslimin, lebih khusus bagi para pria yang berakal untuk selalu bertakwa kepada Allah terhadap wanita yang disifati oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ.

“Tidaklah aku melihat makhluk yang kurang akal dan agamanya, yang dapat menghilangkan akal seorang pria teguh, melainkan salah seorang dari kalian.”[2]

Yaitu para wanita.

Maka, kewajiban kaum prialah untuk melarang wanita muslimah agar tidak mengikuti berbagai mode masa kini yang bertujuan agar kita lupa dari maksud penciptaan manusia, (kita diciptakan bukan untuk mengikuti mode-pent.) agar hidup kita selalu bergantung dengannya. Terfitnah dengan aneka ragam mode hanya akan membawa kepada bencana kejelekan dan kerusakan. Serta tidaklah mengarahkan kehidupan manusia kecuali sebatas memperturutkan keinginan syahwat perut dan kemaluannya.

Dan saya melihat beberapa kejelekan pada salon kecantikan yang harus dihindari di antaranya:
1. Termasuk yang dilakukan oleh para pekerja salon adalah meriah rambut atau yang lainnya dengan perhiasan orang-orang kafir. Dan kita mengetahui bahwa ini merupakan perbuatan yang diharamkan karena termasuk tasyabbuh terhadap mereka. Barangsiapa ber-tasyabbuh terhadap suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits Nabi di atas.

2. Bahwasanya pekerjaan mereka, sebagaimana yang disebutkan oleh si penanya, termasuk di dalamnya adalah an-nams (mencukur alis) adalah haram. Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pelaku perbuatan ini dan beliau melaknat orang yang mencukur alis. Makna laknat di sini adalah dijauhkannya seseorang dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya tidak yakin jika ada seorang mukmin, baik pria maupun wanita yang rela melakukan suatu amalan yang menyebabkan ia terjauh dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Bahwa ini merupakan perbuatan menghambur-hamburkan harta tanpa faedah, bahkan untuk hal-hal yang berbahaya. Jadi pekerja salon yang memodifikasi rambut, dari rambut wanita muslimah kemudian meniru model rambut wanita kafir atau pelacur, maka mereka akan mendapatkan uang yang banyak dari para wanita tersebut, sedangkan wanita tersebut tidak mendapatkan manfaat apa-apa kecuali mengikuti trend rambut yang kemungkinan akan membawa kepada kebinasaan.

4. Perbuatan ini mengindikasikan adanya upaya untuk meracuni pemikiran wanita muslimah. Pertama, mereka diarahkan untuk mengikuti mode rambut wanita kafir yang katanya mo-dern. (Kedua,) jika seruan ini disambut dengan antusias, maka mereka pun akan diarahkan untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang akan merusak akhlak dan kepribadian mereka.

5. Sebagaimana yang disebutkan oleh penanya, bahwasanya para pekerja salon meminta dari wanita muslimah untuk membuka aurat tanpa suatu keperluan yang dibenarkan karena untuk menghilangkan bulu pada paha mereka, menggunakan suatu alat yang ditempelkan pada bagian paha wanita, dan sekitar kemaluannya. Sehingga memungkinkan mereka untuk melihat aurat sesama wanita tanpa adanya keperluan yang syar’i.

Dan seperti diketahui bersama bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang wanita untuk melihat aurat wanita lainnya. Dan tidak halal baginya melakukan hal tersebut kecuali jika ada udzur yang syar’i. Ke-mudian apa manfaatnya kita menjadikan wanita seperti karet yang tidak memiliki bulu (rambut) sedikit pun. Sebab siapa yang tahu jika mencukur bulu yang ditumbuhkan oleh Allah dengan hikmah-Nya akan berakibat buruk pada kulit walaupun dalam jangka waktu yang panjang. Dan siapa yang tahu kalau yang benar adalah ucapan: “Bahwa menghilangkan bulu pada bagian betis, paha, dan perut tidak boleh karena bulu-bulu ini ciptaan Allah. Dan dengan menghilangkannya termasuk merubah ciptaan-Nya.” Allah telah mengabarkan bahwa merubah ciptaanNya termasuk pengikut perintah syaitan, karena Allah serta Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan untuk menghilangkan bulu. Maka hukum asal mencukur bulu adalah haram seperti yang disebutkan oleh sebagian ulama. Adapun pihak yang membolehkannya tidak pernah mengatakan bahwa menghilangkan atau membiarkannya sama saja, tetapi yang lebih utama adalah membiarkannya walaupun mencukurnya tidaklah haram karena dalil tentang pengharamannya tidak kuat.

Dan saya tegaskan sekali lagi kepada laki-laki dan perempuan hendaklah mereka tidak tertipu dengan semua ini. Dan wajib bagi mereka untuk memutuskan hubungan dengan salon-salon kecantikan. Jika wanita ingin bersolek hendaklah dengan sesuatu yang tidak berdampak buruk pada agama, sehingga mereka tidak terjerumus pada perkara yang haram, yaitu dengan cara bertasyabbuh dengan orang-orang kafir.

Jika Allah menghendaki kecintaan di antara sepasang suami isteri, maka hal itu tidak mungkin terjadi dengan bermaksiat kepada Allah. hal itu hanya akan terealisasi dengan ketaatan padaNya dan berpegang teguh dengan sifat malu dan bersikap sopan.

Saya memohon kepada Allah semoga kita semua terhindar dari makar para musuh. Dan mengembalikan kita pada kehidupan para Salafush Shalih yang berpegang teguh dengan sifat malu dan sopan. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, Mahamulia dan Maha Pemberi taufiq.

(Jawaban dari: Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin tanggal: 15 – 1 – 1410 H)

[Disalin dari buku Nasihat Ulama Besar Untuk Wanita Muslimah” Disusun oleh Hamd bin Ibrahim al-Huraiqi, Penerjemah Ruslan Nurhadi, Lc, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir – Bogor]
_______
Footnote
[1]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/50, 92) dan Abu Dawud (no. 4031). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Irwaa-ul Ghaliil (V/109, no. 1269).-pent.
[2]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 304, 1462), lihat takhrij hadits ini dalam Irwaa-ul Ghaliil (I/204, penjelasan hadits no. 190), karya Syaikh al-Albani rahimahullah.-pent.

http://almanhaj.or.id/content/1927/slash/0/perginya-para-wanita-ke-salon-kecantikan/

♣ Apabila Pelajar Agama Berikhtilat?


Bismillah. Saya rasa, saya perlu kongsi perkara ini. Tentang, bagaimana syaitan perangkap “golongan-golongan agamawan”, ataupun senang cakap, orang-orang yang berlatar-belakangkan pelajar agama, dengan perangkap legend mereka iaitu:

“IKHTILAT…”

Sebelum ini, saya ada hurai isu ikhtilat, hukum hakamnya dan kekeliruan yang berlaku tentang isu ikhtilat ini secara terperinci di SINI. Boleh rujuk, baca sampai habis, ketepikan nafsu, dan amalkan.

Saya akan tulis, step by step, macamana seseorang tu boleh hancur dengan isu ikhtilat ni. Bukan apa, saya jumpa, sangat ramai pelajar agama, tak kisah samada budak sekolah agama, atau pelajar university jurusan agama, yang hancur lebur di sebabkan ikhtilat ini.

Orang ikhtilat ni, dakwah dia akan terbantut, potensi diri dia akan jatuh menjunam, self estim dia akan hilang, dan yang sama waktu dengannya. Tetapi, ada juga yang tak jatuh. Dia still steady, namun, DAKWAH TERBANTUT tu, komfem. Mungkin dia rasa, dakwah dia mekar subur. Tapi, ukuran “mekar subur” yang dia rasa, sebenarnya amat bertentangan dengan ukuran yang telah di gariskan oleh para-para ulama FIQH DAKWAH. Mereka ingat, dakwah mereka berjaya. Namun rupa-rupanya, menjadi fitnah untuk agama.

Tanpa, membuang masa, jom baca step-step ini. Saya tulis berdasarkan pengalaman saya menghandle isu ini di peringkat sekolah dan kawan-kawan university. Baca, check diri, dan, akurlah!

****

1)Kau konon-kononnya mulakan persembangan atas urusan penting di ruangan chat samada dia twitter, FB, whats app, we chat dan yang sama waktu dengannya. Tanya kerja rumah la(Bajet. Sesama jantina kau tak nak tanya), urusan dakwah kononnya, dan lain-lain.

2)Kemudian, kau mula start memutar belitkan urusan yang konon-kononnya penting tu dengan smiley, dan saling mendoakan.

3)Mulalah kononnya saling nasihat menasihati, dan saling berbalas terima kasih dan doa yang di akhiri dengan smiley.

4)Jiwa kau makin seronok. Dan kau mulalah guna alasan “dakwah” untuk teruskan mesej-mesej yang kononnya islamik. Contoh:

“Moga awak cemerlang pelajaran. Seorang muslim tu perlu cemerlang. Buat terbaik!!”

“Jangan lupa qiam. Qiam ni satu benda yang sangat penting!!”

“Moga ukhwah fillah ini berkekalan insyallah. Doakan saya….”

5)Sepanjang step 1 hingga 4 ni, kalau kau check diri kau balik, kau akan ada rasa “Seronok”, “syok”, rasa lain macam dan yang sama waktu dengannya. Tak payah nak tipu. Mengaku je.

6)Lalu, kau terus menerus melakukan perkara yang sama. Mulalah saling berkongsi masalah, dan saling nasihat-menasihati tentang bagaimana nak atasi masalah tersebut, sedangkan kau tak perasan, ikhtilat yang kau buat tu lah kesalahan yang besar gila.

7)Attitude kau, perangai kau, akan start berubah. Kau yang dulu galak dan suka bersembang dengan kawan-kawan sejantina kau, kini, kau lebih banyak berdiam diri. Tak banyak cakap, dan seakan-akan hati kau terganggu. Mungkin kau tak sabar nak mesej dengannya lagi. Bukan mungkin, bahkan memang pun.

8)Kau mula hidup di alam percintaan. Kau mula angau dan gila bayang. Kau akan rasa berat dan malas untuk solat, qiamullail, quran dan zikir, lantaran kegilaan bayangan yang kau hadapi. Masa kau, banyak habis di depan henset, tersenyum sorang-sorang. Hampir tiap masa kau tak boleh lepas dari henset kau. Kejap-kejap tengok henset, kejap-kejap tengok henset. Kredit banyak habis. Hati kau rasa gelisah.

9)Sepanjang step 6 sampai 8 ni, mudah cerita, kehidupan kau berubah. Dan ya, kau masih lagi tak selitkan mesej-mesej yang berbaur “aku cintakan awak”. Sepanjang ni, kau masih lagi dalam mood berhati-hati, dengan menggunakan alasan agama, ukhwah fillah dan dakwah untuk membenarkan dosa yang kau buat.

10)Kau mula bad mood dan panas baran. Cepat marah dan tak selesa duduk dengan orang ramai. Bila orang tanya kenapa, kau tak jawab. Padahal, semua orang boleh tahu, attitude kau dah berubah. Kau dah mula susah nak terima teguran, kau mula benci orang yang menegur kau, kau mula menyampah dengan orang-orang yang sering memberi peringatan tentang “bahaya ikhtilat”. Dan segala apa yang berkaitan dengan apa yang kau tengah buat, kau akan rasa marah. Kalaupun tak marah dengan mulut, mata kau akan berkerut, hati kau mula merungut dan rasa something wrong.

11)Ketika ini, hati kau akan rasa pedih dan sempit bilamana kau mula berjauhan dengan henset kesayangan kau. Kalau kau pelajar sekolah, kau mula rasa tak selesa dan benci pada sekolah, kerana di sekolah, kau tak boleh bawak henset. Asrama apatah lagi. Maka, akan berlaku penyakit “malas”, takde mood nak belajar, rasa kurang senang dan terpaksa dengan asrama, dan hanya fikir nak cuti.

Kalau kau pelajar university, mungkin tak kena penyakit benci sekolah. Tapi, focus kau untuk belajar melencong jauh.

12)Kau mula beranikan diri, start mesej-mesej yang berbaur:

“Awak ada suka sape-sape tak?”

Tetapi, masih di cover dengan ayat:

“Bukan apa, tapi, jagalah hati tu. Saya nasihatkan bla bla bla….”

13)Sampai satu tahap, dua-dua mulalah meluahkan cinta. Oh, cinta kerana Allah kononnya. Sekali lagi guna alas an agama untuk kepentingan nafsu serakah! Ayat biasa yang cukup selalu di gunakan:

“Yang penting, awak kena letak cinta Allah dan rasul di atas. Insyallah, cinta manusia akan datang..”

“Saya tak nak, kerana cinta ini, kita lalai dari Allah. Awak banyakkanlah baca quran, zikir dan solat. Moga dengan percintaan ini, Allah redha kita dan membuatkan kita lebih dekat dengannya…..”

“Awak tegur-tegurlah saya bila saya buat salah…”

14)Mula lah start plan nak kahwin. And then, kononnya kata:

“Cinta yang suci berakhir dengan perkahwinan”.

Dari satu sudut, baguslah kahwin.Tetapi, perjalanan menuju perkahwinan yang suci tu, kau telah cemarkan dengan najis-najis dosa dan maksiat. Lebih bertambah busuk, kau saluti najis tu dengan “wangi-wangian dan minyak atar agama”, supaya najis tu kelihatan wangi dan berseri. Namun, kau tak boleh lari. Najis itu tetap busuk walaupun kau letak segala wangian.

Khadijah lamar nabi pun guna orang tengah.

15)Maka, tup tap tup tap, kau kahwin.

16)Malangnya, kau rasa, “jalan suci” (Ini sarkastik) yang kau gunakan sepanjang menuju perkahwinan tu adalah perkara yang BENAR dan HAQ, sedangkan ianya cukup batil. Tapi, lantaran kau tertipu dengan syaitan, maka, kau menyarankan kepada adik-adik dan kawan-kawan yang sebaya atau lagi muda dari kau untuk melakukan perkara yang sama seperti mana yang kau lakukan.

Apabila mereka meminta nasihat dari kau tentang urusan cinta dan ikhtilat, kau memberi hukum dan penerangan yang bertentangan dengan syarak, dan kau hiasinya dengan dalil-dalil agama yang tak kena tempat dan lari dari disiplin ilmu, semata-mata untuk kau menghalalkan benda yang haram.

17)Lalu, muncullah hukum “ikhtilat itu harus selagi tak lebih-lebih”, sedangkan hukum asal ikhtilat adalah “haram, boleh jadi harus jika berlaku beberapa keadaan”.

18)Akhirnya, muncullah generasi-generasi muda yang menganggap ikhtilat ni benda biasa. Selagi tak pegang tangan, maka mereka rasa ia tak haram. Sekadar mesej, tiada masalah. Mereka anggap, selagi tak mesej dan sembang perkara yang menaikkan syahwat seperti isu seks dan sebagainya, maka selagi itu halal. Entah dalil apa yang mereka pakai.

Seperti mana ustaz yang merokok, apabila di tanya kepadanya tentang hukum merokok, maka dia akan pusing-pusing dalil sehingga keluar dalil darinya yang mengatakan rokok itu tak haram, begitu juga bila ustaz-ustaz yang ikhtilat, apabila di tanya tentang hukum ikhtilat, dia akan memberi hukum yang membenarkan ikhtilat.

Lahirlah golongan yang meringan-ringankan agama,dan menganggap orang yang berpegang-teguh keapda agama sebagai golongan yang syadid, keras dan ekstrimis. Sedang mereka tak perasan, merekalah yang dah terpesong jauh akibat terlalu longgarkan agama mengikut kepentingan nafsu.

***
NASIHAT BAGI GOLONGAN AGAMA

Saya bukan apa, saya amat kecewa bila orang yang mengambil jurusan agama sendiri yang menjadi fitnah pada agama. Saya pernah tengok depan mata berkali-kali, budak tahfiz merokok, budak tahfiz yang couple dan ikhtilat, budak yang belajar jurusan syariah yang bercintan-cintun, galak dengan berlainan jantina, budak agama yang tak jaga amal agama seperti solat Jemaah, qiamullail, quran dan lain-lain, serta menghabiskan masa dengan movie, drama demi drama, anime demi anime, game dota fifa dan yang sama waktu dengannya.

Bahkan, ketika saya di mesir, di sebuah cyber café, kelihatan beberapa perempuan melayu berpurdah dan berjubah, beramai-ramai berkumpul di satu PC, menangis beramai-ramai melihat video “Warkah Cinta”. Belum cerita yang tengok drama korea jepun bagai. Malas nak tegur. Saya dah tulis teguran ini secara panjang lebar. Baca di sini dan sini.

Jadi, saya merayu keapda golongan yang belajar agama:

1)Kau kena sedar yang kau adalah harapan ummat! Kalau kau, orang yang belajar agama, kalau kau sendiri yang menghancurkan agama, apa lagi yang kita boleh harapkan kepada orang lain? Kes zina berleluasa, buang anak, hiburan melampau, pelacur sini sana, kes rogol yang makin hari makin kritikal, dan lain-lain. Apakah kau langsung tak rasa apa-apa? Apakah kau langsung tak rasa bersalah dengan dosa yang kau buat??!

2)Kalau pelajar agamapun tengok drama, tak mustahil umat kat luar sana hancur dengan video-video lucah. Kalau kau sebagai pelajar agama, berikhtilat(walaupun tak bersentuhan), maka, umat kat luar sana tak mustahil akan berzina.

Maka, tepuk dada Tanya iman.

Allah dah bagi kau nikmat KESEDARAN untuk mendalami agama, janganlah kau kufuri dengan kau cemarkan agama. Malu lah dengan Allah. Malulah, bertaubatlah padanya. Akhirnya, kita sebagai orang yang belajar agama, kita lah yang akan menjadi TONGGAK untuk kebangkitan islam. Sepatutnya!

Tapi, adakah realitinya pada hari ini menunjukkan sebegitu?

Maka, tepuk dada, tanyalah imanmu, wahai diri!
Maaf andai saya menggunakan perkataan yang agak kasar. Tulisan ini khusus untuk diri saya, dan umum kepada semua. Moga kita semua dapat berubah!

Wallahua’lam.

-Adnin Roslan-

http://www.tarbiahsentap.com/2014/06/apabila-pelajar-agama-berikhtilat.html