♣ Seorang Akhwat Belajar Dari Kisah Maryam ‘alaihisallam


SEORANG AKHWAT BEAJAR DARI KISAH MARYAM ‘ALAIHISALLAM

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah Ta’ala memberi gambaran ketauladanan seorang Muslimah seharusnya & seperti apa melalui kisah Maryam.

Di kisah Maryam, seorang akhwat akan belajar:

  • Bagaimana menjaga kesucian diri melalui iffah yang tepat
  • Bagaimana menjadi Muslimah tangguh
  • Bagaimana menjadi Muslimah yang taat
  • Bagaimana seorang Muslimah memiliki keistiqahan kepada Allah Ta’ala atas setiap masalah yang dihadapi

Kalau seandainya akhwat bertemu dengan seorang ikhwan yang sangat tampan (sempurnalah akhlak & penampilannya) kira-kira respon pertama yang terucap apa baik yang dalam hati mahupun ekspresinya?

Bagaimana jawapan seorang Maryam yang telah ditarbiyah Allah Ta’ala melalui Zakaria?
Jawapan seorang hamba Allah Ta’ala yang telah dididik dengan baik oleh Zakaria & keluarganya Imran dengan baik? Jawapan wanita suci yang Allah Ta’ala persiapkan untuk melahirkan seorang calon Nabi?

Ketika Jibril datang menghampiri Maryam dalam keadaan manusia yang sempurna (ertinya
Jibril datang dalam keadaan sebaik-baiknya manusia dalam erti ketampanan, kerapihan, mahupun tuturkata yang sangat lembut) di ruang pingitan Maryam untuk menyampaikan wahyu Ilahi maka Maryam berkata:

“Qa lat inni a’udzu birrahmani minka inkunta taqiyya”

Lihatlah akan respon Maryam yang begitu lembut dan memahami bagaimana memelihara iffah dirinya.

Ertinya maka berkatalah Maryam:

“Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada yang Maha Pengasih, jika kamu seorang yang bertaqwa”

Maryam memahami betul ketika melihat pria sempurna tersebut maka muncullah rasa takut dalam dirinya (inilah kenapa ada kata taqwa yang ertinya perasaan takut kepada Allah Ta’ala terlibat dalam ayat tersebut), bukan rasa kagum & sebagainya, namun justeru perasaan takut akan terjerumus ke dalam jurang maksiat setelah selama ini berusahalah mensucikan diri.

Maryam tidak hanya muncul takut atas maksiat, tapi atas kenikmatan & keindahan yang Rabbnya telah berikan kepada dirinya.

Maryam begitu menjaga dirinya (iffah) tidak hanya atas maksiat tetapi juga dari hal-hal yang berpotensi menimbulkan maksiat dalam dirinya hanyalah orang-orang yang bertaqwa sajalah yang mampu mendeteksi hal-hal yang berpotensi menimbulkan kemaksiatan jauh melebihi kebanyakan orang lain.

Inilah iffah yang sesungguhnya bukanlah iffah yang dibuat-buat dengan penampilan mahupun intonasi suara melainkan melalui respon awal terhadap potensi-potensi kemaksiatan yang hadir di hadapannya.

Wallahu a’lam, kenapa Allah Ta’ala menggunakan fi’lul madhi (past tense) dalam menggambarkan statement Maryam (dia telah berkata), mungkin gambaran Muslimah solehah seperti Maryam memang sangat langkah terjadi.

Allah Ta’ala lebih mengetahui kadar-kadar kejujuran hati kita dalam merespon setiap keadaan yang muncul dihadapan kita.

MasyaAllah, wa nastaghfirullahal adziim..

Semoga para ukhti fillah sentiasa mendapat bimbingan dari Allah Ta’ala untuk dapat mengaplikasikan nilai-nilai iffah dengan tepat & baik.

Wallahu a’lam bish-shawabi..

“Ya Allah, aku memang belum menjadi Muslim atau Muslimah yang seharusnya, maka kuatkanlah aku untuk mampu kaffah dalam beragama, amiin”

One thought on “♣ Seorang Akhwat Belajar Dari Kisah Maryam ‘alaihisallam

  1. barakallahu fiik.ya ukhti, seandainya muslimah di zaman sekarang membaca tulisan ini dan menyadarinya, pasti indahlah dunia ini…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s