♣ Cukuplah Aku Mencintai Dalam Diam

Kalau kita sukakan seseorang,
jangan beritahu si dia.
Nanti Allah kurangkan rasa cinta padanya
Tapi luahkan pada Allah,
beritahulah Allah.
Allah Maha mengetahui siapa jodoh kita ..

Cintai Dia Dalam Diam,
Dari Kejauhan Dengan Kesederhanaan & Keikhlasan

Jika benar cinta itu kerana ALLAH maka biarkanlah ia mengalir mengikut aliran ALLAH kerana hakikatnya ia berhulu dari ALLAH maka ia pun berhilir hanya kepada ALLAH!


“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran ALLAH.”
(Adz Dzariyat : 49)

Tetapi jika kelemahan masih nyata dipelupuk mata maka bersabarlah, berdoalah & berpuasalah

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji.
Dan suatu jalan yang buruk.”
(Al Israa’ : 32 )

 

Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang,
Allah SWT mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya & Dia telah menciptakan sseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak.

Ketika kau merasa bahawa kau mencintai seseorang,
namun kau tahu cintamu tak terbalas
Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu & Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu

Cukup cintai dalam diam
bukan kerana membenci hadirnya
tetapi menjaga kesuciannya
bukan kerana menghindari dunia
tetapi meraih syurga-NYA
bukan kerana lemah untuk menghadapinya
tetapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup

Cukup cintai dari kejauhan
kerana hadirmu tiada kan mampu menjauhkan dari ujian
kerana hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan
kerana mungkin membawa kelalaian hati-hati yang terjaga

Cukup cintai dengan kesederhanaan
Memupuknya hanya akan menambah penderitaan
menumbuhkan harapan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan

Cintailah dengan keikhlasan
Kerana tentu kisah Fatimah dan Ali Bin Abi Talib diingini oleh hati
tetapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi..??

“.. boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Al Baqarah : 216 )

Jangan memberi harapan pada yang belum pasti,
kelak ada insan yang bakal dilukai,
Jangan menaruh harapan pada yang belum tentu dimiliki,
nanti hati yang kecewa sendiri.

Sebaliknya,
gantunglah segenap pengharapanmu kepada Yang Maha Memberi,
nescaya dirimu tak sesekali dizalimi,
kerana Dia mendengar pengharapanmu setiap kali & Dia menunaikannya dgn cara-Nya yang tersendiri

Cukup cintai dalam diam dari kejauhan dengan kesederhaan & keikhlasan
Kerana tiada yang tahu rencana Tuhan
mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan

Kerana hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikkan
serahkan rasa itu pada Yang Memberi dan Memilikinya
biarkan DIA yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya.


“Barangsiapa yang menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.”
(Umar Bin Khattab ra)

If you really love her, you won’t touch her.
Not even the slightest bit.
You’ll protect her dignity and sacredness as a muslimah.
Just hold her in your heart for a few more years ..
then you can do it the halal way


“Sesiapa sahaja yang memberi kerana Allah, menolak kerana Allah, mencintai kerana Allah,membenci kerana Allah & menikah kerana Allah, maka bererti ia telah sempurna imannya.”
(HR. Al-Hakim)

 P/S PDH : Sebelum tiba waktunya untuk kamu halal bersama si dia, tahanlah hatimu. Tahanlah perasaanmu. Jika perasaan itu tidak tertahan lagi, coretkan segala isi hatimu tentang cinta & rindu, tentang doa & harapanmu padanya dalam tulisan. Dan simpanlah warkah yang tidak beralamat itu sebaik mungkin.

Apabila tiba saatnya kamu disatukan, maka serahkanlah segala isi hatimu itu padanya. Dia pasti bahagia menerimanya, tetapi jika waktu itu belum tiba. Biarlah ia menjadi RAHSIA antara dirimu dan Sang Pencipta sahaja kerana kelak jika dia bukan milikmu, bakarlah coretan itu bersama hilangnya wajah si dia dari hatimu…

♣ HPmu HARGA DIRImu

بسم الله الرحمن الرحيم

Sms Merah Muda

“Tetap istiqomah, Ukhti… Selamat berjuang. Semoga Allah menyertai anti.” Sender : Ikhwan +62817xxx

Senyum timbul dari cakrawalanya dengan malu-malu. Serasa ada hangat menyelusup dada dan membuat jantung berdegup lebih cepat. Otaknya pun sekejap bertanya, “Ada apa?”, “Sungguh, bukan apa-apa. Aku hanya senang karena ada saudara yang menyemangatiku.” Si akhwat menyangkal hatinya cepat-cepat. Dan ia bergegas meninggalkan kamarnya, ada dauroh. Ia berlari sambil membawa sekeping rasa bahagia membaca sms tadi yang sebagian besar bukan karena isinya, melainkan karena nama pengirimnya.

“Ana lagi di bundaran HI, Ukhti. Doakan kami bisa memperjuangkan ini.” Sender : Ikhwan +628179823xxx

Untuk apa dia memberitahukan ini padaku. Bukankah banyak ikhwan atau akhwat lain? Nada protes bergema di benaknya. Tapi di suatu tempat, entah di mana ada derak-derak yang berhembus lalu. Derak samar bangga menjadi perempuan yang terpilih yang di-sms-nya.

Pagi itu, handphone kesayangannya berbunyi. “Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti.”

Dada membuncah hampir meledak bahagia. “Dia bahkan ingat hari lahirku!” Dibacanya dengan berbunga-bunga. Tapi pengirimnya… Sender : Akhwat +6281349696xxx

Senyum tergurat memudar. Tarikan napas panjang. Kecewa, bukan dari dia. Ringtone-nya berbunyi lagi.

“Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti.” Sender : Ikhwan +628179823xxx

Dia!Semburat jingga pagi jadi lebih indah berlipat kali. Senyumnya mengembang lagi. Dan bunga-bunga itu mekar-lah pula.

Cerita di atas tadi selurik gerak hati seorang akhwat di negeri antah berantah yang sangat dekat dengan kita. Gerak hati yang mungkin pernah bersemayam di dada kita juga. Bisa jadi kita mengangguk-angguk tertawa kecil atau berceletuk pelan, “Seperti aku nih,” saat membacanya. Hayo… ngaku! He he…

Mari kita cermati fragmen terakhir dari cerita tadi. Kalimat sms keduanya persis sama, yang intinya mengucapkan dan mendoakan atas hari lahir (mungkin mencontek dari sumber yang sama hehe…). Sms sama tapi berhasil menimbulkan rasa yang jelas berbeda. Karena memang ternyata lebih berarti bagi si akhwat adalah pengirimnya, bukan apa yang dikatakannya.

Namun sebenarnya, apakah Allah membedakan doa laki-laki dan perempuan? Mengapa menjadi lebih bahagia saat si Gagah yang mendoakan? Semoga selain mengangguk-angguk dan tertawa kecil, kita juga berani memandang dari sudut pandang orang ketiga. Dengan memandang tanpa melibatkan rasa (atau nafsu?), kita akan bisa berpikir dengan cita rasa lebih bermakna.

Konon, cerita tadi terus berlanjut.

Suatu hari yang cerah, sang akhwat mendapat kiriman dari si ikhwan itu. Sebuah kartu biru yang sangat cantik. Tapi sayang, isinya tidak secantik itu. Menghancurkan hati akhwat menjadi berkeping-keping tak berbentuk lagi. Kartu biru itu adalah kartu undangan pernikahan si ikhwan. Dengan akhwat lain, tentu saja. Berbagai Tanya ditelannya. Mengapa dia menikah dengan akhwat lain? Bukankah dia sering mengirim sms padaku? Bukankah dia sering me-miscall ku untuk qiyamull lail? Bukankah dia ingat hari lahirku? Bukankah dia suka padaku? Mengapa…mengapa…

Dan air mata berjatuhan di atas bantal yang diam. Teman, jangan bilang, ya… dia hanya tidak tahu, ikhwan itu juga mengirimkan sms, miscall, mengucapkan selamat hari lahir dan bersikap yang sama ke berpuluh akhwat lainnya!

Ironis. Sedih, tapi menggelikan, menggelikan tapi menyedihkan. Sekarang siapa yang bisa disalahkan? Akhwat memang seyogiyanya menyadari dari awal, sms-sms yang terasa indah itu bukan tanda ikatan yang punya kekuatan apa-apa. Siapa yang menjamin bahwa ikhwan itu ingin menikahinya? Bila ia berharap, maka harapanlah yang akan menyuarakan penderitaan itu lebih nyaring.

Tetapi para ikhwan juga tak bisa lari dari tanggung jawab ini. Allau’alam apapun niatnya, semurni apapun itu, ingatlah, sms melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Putih si pengirim, tak menjamin putihnya juga si penerima. Bisa jadi ia akan berwarna merah muda. Merah muda di suatu tempat di hati atau menjadi rona di pipi yang tak akan bisa disembunyikan di depan Allah.

Bagi perempuan, sms-sms dan bentuk perhatian sejenis dari laki-laki bisa menimbulkan rasa yang sama bentuknya dengan senyuman, kedipan menggoda, dan daya tarik fisik perempuan lainnya bagi laki-laki.

Menimbulkan sensasi yang sama. Ketika perempuan bertanya berbagai masalah pribadinya padamu, seringkali bukan solusi yang ingin dicari utamanya. Melainkan dirimu. Ya, sebenarnya perempuan ingin tahu pendapatmu tentang dia, apakah dirimu memperhatikannya, bagaimana caramu memandang dirinya. Dirimu, dirimu, dan dirimu… dan kami –kaum hawa- sayangnya, juga memiliki percaya diri yang berlebihan, atau bisa dibahasakan lain dengan ‘mudah Ge-Er’. Jadi, tolong hati-hati dengan perhatianmu itu.

Paling menyedihkan saat ada seorang aktivis yang tiba-tiba berkembang gerak dakwahnya atau semangat qiyamul lailnya karena terkait satu nama. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Ketika kita menyandingkan niat tidak karena Allah semata, maka apalah harganya! Apa harganya berpeluh-payah bukan karena Dia, tapi karena dia. Seseorang yang sama sekali bukan apa-apa, lemah seperti manusia lainnya.

Laki-laki dan wanita diciptakan berbeda bukan saling memusuhi, bukan juga saling bercampur tak bertepi, tapi semestinya saling menjaga diri. Secara fisik, emosional, atau kedua-duanya. SMS tampak aman dari pandangan orang lain, hubungan itu tak terlihat mata. Tapi wahai, syetan semakin menyukainya. Mereka berbaris di antara dua handphone itu. Maka dimanapun mereka berada, syaitan tetaplah musuh yang nyata!

Wahai akhwat, bila kau menginginkan sms-sms itu, tengoklah inbox-mu. Bukankah disana tersusun dengan manis sms-sms dari saudarimu. Saudari-saudarimu yang dengan begitu banyak aktivitas, amanah, kelelahan, dan kesedihan yang sangat memerlukan perhatianmu. Juga begitu banyak teman-temanmu yang belum mengenal Islam menunggu kau bawakan sms-sms cahaya untuk mereka.

Ada saatnya. Ya, ada saatnya nanti handphone kita dihiasi sms-sms romantis. Sms-sms yang walaupun hurufnya berwarna hitam semua, tapi tetap bernadakan merah muda. Untuk seseorang dan dari seseorang yang sudah dihalalkan kita berbagi hidup, dan segala kata cinta di alam semesta.

Cinta yang bermuara pada penciptaNya. Cinta dalam Cinta. Bersabarlah untuk indah itu.

“Ummi, abi lagi ngisi ta’lim di kampus pelangi. Di depan abi ada beribu bidadari-bidadari berjilbab rapi, tapi tak ada yang secantik bidadariku di istana Baiti Jannati. Miss u my sweety.”

“Abi, yang teguh ya, pangeranku…rumah ini terasa gersang tanpa teduh wajahmu. Luv ya”

Ya, hanya untuk dia kita tulis the Pinkest Short Massage Services. Sms-sms paling merah muda.

♣ Humbleness & Humility

HUMBLENESS & HUMILITY

بسم الله الرحمن الرحيم

“Bear with each other and forgive whatever grievances you may have against one another. Forgive as the Lord forgave you.”

We must be patient with one another through the failures and times of testing that our brothers and sisters go through. When living with others, it is predictable that we will find out their failures, weaknesses and strengths.

It is only through God’s grace that we can bear, (tolerate, or even put up with,) the various personalities of others and it is by that same grace that others can put up with us. As difficult as it may be, we are to bear with one another. When we bear with one anther we are putting up with each other, enduring through, forbearing and even suffering with each other. This alone tells me that we are going to come across many different personalities with various strengths and weaknesses. Times will be hard and seem like you both will never ever see eye to eye, but hold on to the Lord and as long as your attitude of forgiveness is evident, you will succeed.

Forgiveness should always be exercised toward others who have offended us. We need to remember that when someone does offend or try to bring us down through words, moods, or actions, we have a choice to make. Either we can take the offence by forgiving the person or we can grovel in self-pity, depression and let the enemy oppress us. We, as the family of God, should always have a guard over our mouths that our words are filled only with what the Lord wants us to say. Always be aware of your actions that you do not become an obstacle to those around you. If you know someone is struggling in a certain area of their lives, watch yourself that you do not cause that person to fall or you will stand accountable before God for that brother or sisters sin.

Take the position of humbleness. Humbleness always brings us to forgiveness and helps us to take the offence. Pride will lead us to bitterness, unforgiveness, resentment and a whole line of sin that we allow into our lives.

How do we bear with each other?

“Be completely humble and gentle; be patient, bearing with one another in love.”

We are not to be a little bit humble, but completely! Whether we like it or not, to be humble means, lowly, humility, lowliness of mind, the estimation of ourselves as insignificant, inasmuch as we are so the correct estimate of ourselves. For the sinner tapeinophrosyne (Greek word for humble) involves the confession of sin and a deep realization of unworthiness to receive God’s marvelous grace.

That means we are to give ourselves totally to humbleness that it may finished its course through us. When we humble ourselves in love we are willing to place ourselves in a lower position than others even if we are beaten to pieces, crushed, destroyed, or even broken. (This does not mean we are to become a doormat that puts a sign on our foreheads saying, hit me.) The Lord has in many cases allowed people and material things to come into our lives so that humbleness and forgiveness may be practiced and made manifest within us.

Gentleness is a condition of the mind and heart, not in weakness but in power. It is the attitude of the spirit by which we accept God’s dealings with us as good and do not dispute or resist. The Lord has brought many people into our home. In many cases, it was very hard for gentleness to be within my heart because I was always to busy fighting God when it came to dealing with diverse personalities and attitudes. When I was able to accept the person, (repent of my judgment and self-righteousness,) and stop fighting the Lord, I believe that a heart of gentleness was then apparent. I now understand that in order for gentleness to work in me I must work along with the Holy Spirit to bring unity and oneness to the home through a genuine attitude of acceptance and love. Fighting God in the area of living with others that we don’t agree with or accept will only lead us to a loneliness that we have only brought upon ourselves because we would not submit ourselves to a gentle and humble spirit that the Lord requires of us.

Through patience, we can restrain our actions and lips. Patience is longsuffering, endurence towards situations and circumstances we face daily. Judgment and accusation are ever present when we have no tolerance when we see sin or something that aggravates us (in a brother or sister). Self-righteousness is always lifting itself higher to make itself look better and holier than thou.

Love is the belt that binds us together. When we can put our offences aside and smash the bridges between two or more (through forgiveness and humility), love is then able to step in and help us endure through each test and trial that the Lord allows us to go through.

Be encouraged dear brethren that our time on earth is short and that our trails and tests are for only but a moment. However, we can let those moments last for decades if we do not yield to the Lord and His ways. The Lord is going to allow us to go meet and even live with some of the most unbearable people to live with, but remember that if we are allowing God to change us from glory to glory then His divine will is being done through and in us daily.

The next time you see a brother or sister struggling, encourage him. Lift them up in prayer. Next time you see someone who gets on your nerves; do not judge them, pray. Do the total opposite to what your used too. If someone has hurt you, forgive them because in so many cases they have no idea that they have wronged you. Meditate on it every time you see that person you do not like to talk to or be around. Say, “Hi” to them even. Make yourself available to help them with tasks they need to get done. Go out of your way to be there for them.

It’s amazing how the Lord will use the very people we hurt to listen to our sorrows, needs and struggles. The very people we throw down seem to be the very ones who pick us back up again when we fall. They always seem to be the ones the Lord leads to wipe the dirt of our faces and give the handkerchief when tears are many. They seem to be the ones who encourage us more than anyone else.

Make a choice in your heart today. Repent of the judgments, accusation and self-righteousness. Forgive those who have trespassed against you and start reacting. Look at every situation and circumstance and ask the Lord how he would deal with it. I believe without a doubt that He will give you an answer through His living word or even through a brother or sister.

♣ Jangan Ungkapkan Cinta Pada Hati Lembutnya

JANGAN UNGKAPKAN CINTA PADA HATI LEMBUTNYA

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada sebuah kisah klasik di antara kita para anak manusia…
Adam dan hawa, begitulah kecenderungan manusia pada tiap lawan jenisnya…
Ada ikhwan akhwat, akhi ukhti, qais laila, cewek cowok, romeo juliet, dan begitu seterusnya…
Sudahlah biasa mungkin, jika cinta itu diungkapkan seorang cowok pada kekasihnya…
Pada kenyataannya, mereka memang dua sejoli yang sedang memadu kasih, dimabuk lautan asmara…
Pertanyaannya kemudian adalah apakah biasa jika cinta itu diungkapkan seorang ikhwan kepada akhwat atau bahkan mungkin sebaliknya???
Yang notabene uda pada ngaji…
Jujur… Itu bukanlah hal yang biasa…
Bukan, bukanlah hal biasa…
Tapi sungguh luar biasa…
Ketika ada si ikhwan berkata pada akhwatnya “ukhti, aku mencintaimu dan menyayangimu…”
Hmm, sederet kata sayang yang memenuhi ucapannya… mengharapmu menjadi kekasih hati…
Terbungkus harapan dan janji-janji manis…
Padahal belumlah saatnya ungkapan itu dilontarkan…
Coba hawa, apa yang kalian rasakan jika ungkapan itu mendarat di telingamu??
Akankah terbang di atas awan ataukah terbuai angan panjang…
Mungkin dari kalian ada yang punya hati sekuat baja… so, mental lah kata-kata itu…
Tapi tak semua… di antara kita banyak berhati bak kapas yang mudah diterbangkan kemana pun angin berhembus…
Betapa tak kuasanya…
Lembutnya hati si hawa…
Adam, tegakah kalian menodai hati lembutnya??
Dengan kepolosan dan keluguannya…
Atau bahkan mungkin kebodohannya…
Ya, mungkin karena kebodohan dan kedangkalan ilmunya…
Tolong, jaga hati kami… kalo ga boleh dikatakan kalian memanfaatkan, mempermainkan, atau menguji hati kami…
Tau, jawabnya apa?
Maaf, kalo boleh kami sebut kalian adalah pengecut…
Kenapa begitu? Karena antum hanya bermain-main dengan sehelai kapas… yang kecil, tipis, mudah terbang tanpa arah dan tujuan…
Bermain-main di belakang dalam angan dan buaian…
Realitasnya, kalian belum berani menghadapinya…
Adakah jika engkau jantan, maka nikahi aku??
Bisakah??
Renungkanlah…
Jauhi kami, jika kalian tak kuasa dengan fitnah hawa…
Janganlah percikkan bara, jika kalian tak ingin terbakar olehnya…
Janganlah menantang resiko dengan mendekati pintu-pintu fitnah, jika kalian ga bisa menanggung konsekuensinya…
Melegalkan cara-cara yang telah diharamkan-Nya…
Bagaimanapun itu uda keluar dari jalur dan syari’at-Nya…
Terbuai cinta yang bersemi sebelum waktunya…
Sehingga menempuh jalan bermaksiat kepada-Nya…
Sabarlah dan tuntutlah ilmu…
Amalkan dulu ilmu yang kita punya dalam balutan ketaatan dan ketaqwaan…
Jika memang sudah tak bisa…
Tempuhlah jalan yang paling mulia tuntunan RasulNya…
Menikahlah melalui jalur syari’atNya…
Dengan cara-cara yang dilegalkan dan dihalalkan-Nya…
Muslim yang baik untuk muslimah yang baik…
Muslimah yang baik untuk muslim yang baik pula…
Dan sebaliknya…
Semoga Alloh memberkahi… dalam ikrar suci yang menyatukan cinta kalian karena-Nya terbingkai indah dan mulia dengan sebuah pernikahan…
Kuntum mawar yang telah merekah mempesona, hadirkan ungkapan cinta suci pada kekasihnya…
Itulah cinta yang sesungguhnya…
Teruntuk ukhti fillah…
Pesan ukhti muthi’ah… semoga Alloh merahmatinya…
“Ukhti, aku sangat menyayangi antunna karena Alloh…
Semoga Alloh menyayangimu…
Hijabilah hatimu dengan hijab kalian…
Hijab yang sempurna…
Jangan biarkan hatimu mudah terjatuh karena rayuan seorang lelaki khilaf dan berpenyakit hatinya… hingga terlena akan harapan-harapan dan omong kosong mereka…
Jauhilah mereka…
Syaithan tak pernah lengah untuk menggoda hamba-Nya…
Senantiasalah istiqomah di jalan-Nya…
Memohonlah penjagaan dari Rabb-Mu dalam ketaatanmu…
Semoga Alloh memberikan yang terbaik untukmu, hidupmu, agamamu, dunia dan akhiratmu…”
Baarakallaahu fiikum….
Bumi Alloh di waktu pagi

Sebuah renungan untuk diriku dan saudaraku fillah


♣ Renungan Buat Ikhwan Akhwat Yang Bertaaruf Di Dunia Maya

RENUNGAN BUAT IKHWAN AKHWAT YANG BERTAARUF DI DUNIA MAYA

بسم الله الرحمن الرحيم

“Ukhti, aku tertarik ta’aruf sama anti.” Itulah kalimat yang sering diadukan oleh para akhwat yang penulis kenal. Dalam satu minggu bisa ada dua tawaran ta’aruf dari ikhwan dunia maya. Berdasarkan curhat para akhwat, rata-rata si ikhwan tertarik pada akhkwat melalui penilaian komentar akhwat.

Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, yahoo messenger, dll, menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas.

Begitu lembut dan halusnya jebakan dunia maya, tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan.

Kasus ta’aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya. Seorang bergelar ikhwan memajang profil islami, tapi serampangan memaknai ta’aruf. Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata ‘ta’aruf’, tanpa perantara.

Jangan memaknai kata “ta’aruf” secara sempit, pelajari dulu serangkaian tata cara ta’aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. Jika memakai kata ta’aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta’aruf.

Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial, pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta’aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing, digantilah status mereka berdua sebagai pasutri, sungguh memiriskan hati. Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya, berikut ini petikan obrolannya:

“Assalamualaikum ukhti,” Sapa sang ikhwan.

“‘Wa’alikumsalam akhi,” Balas sang akhwat.

“Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…” puji ikhwan tersebut.

Apakah berakhir sampai di sini? Oh no…. Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab.

“Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak.”

Sang ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat. “Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.”

….Banyaknya jaringan sosial di dunia maya menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya….

Owh mengerikan, berlebay-lebay di dunia maya, syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan.

Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet mars, mengunjungi benua-benua di dunia. Hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay.

Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya……a’udzubillah, bukan begitu ta’aruf yang Rasulullah ajarkan.

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!

Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.

….Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan?….

Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main.

Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka.

Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam, biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay.

Wahai Ikhwan,

Ini hanya sekedar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata-kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya.

….luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis….

Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis.

Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu!

Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu. Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf. Karena ta’aruf yang tidak berdasarkan aturan syar’i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri.

Duhai akhwat, terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka, apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?

Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya, waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.

….berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram….

Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak.

Duhai akhwat, ta’aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah. [Yulianna PS/voa-islam.com]

♣ We Must Love Others To Be Loved By God

WE MUST LOVE OTHERS TO BE LOVED BY GOD

بسم الله الرحمن الرحيم

“When we close our hearts to others, our eyes are closed to see the beauty of God in them. The message of Islam, Judaism, Christianity and all other religions is one of love and service to others. If God decides to care and love and feed even those who deny his existence, then who are we to deprive someone else of our love just because he is of different color or speaks a different language or is born in a different country or prays to the same God but in a different direction, using different words?”
Dr. Shahid Athar, October 21, 2001

Man is not only a social animal but a spiritual one. This spirituality stems from the fact that he was created by God, who had blown his spirit into him. Thus, while our body is a container of the soul, which is attached to earthly matters, the soul, with its essence of the spirit, always longs to be united with the Creator.

One of the meanings of the word Islam is surrender, and human life is nothing but surrender. We had no choice when our souls were created, nor did we have a choice when they were united with the flesh in our mother’s womb. We had no choice living as a fetus and after birth were dependent on our parents and others around us.

The Quran states: “When God comprehended in his design heavens and earth and asked them to come together willingly or unwillingly, they said we come together in willing obedience.” Human longing for union with God is no different from a child who got separated from his mother in a mall and then finds her and runs back to her folds.

It has been said that it is not man who is the seeker but it is he who is being sought. For this union of soul to take place with its Creator, one must achieve the state of peaceful bliss.

Just like the lost child in a crowd who is looking into other faces in search of his parent, we look into different faces or earthly manifestations of God in the form of his reflection and consider it to be reality. Sometimes we get attached to that and fall in love, until we realize that it was only a reflection and we must go to the source of light.

Thus our acts of worship, whether fasting, prayer, pilgrimage or good deeds, are only keys to the door that will unlock the house where the beloved resides.

My union with him will materialize when I enter that house. I find that I cannot unlock the door with a rusted key. It is the love and remembrance of God that will remove the rust both from the key and the lock.

Human beings live a fragmented life but thirst for wholeness. Thirst for inner peace and knowledge are the motivating force. The heart remains the center of life and of responsibility.

According to prophet Muhammad, “inside the human body there is a morsel of flesh which, if healthy, the whole body is healthy and which, if diseased, the whole body is diseased.” Then he pointed to his heart and said, “This piece of flesh is this heart.” Thus a sound heart that is pure and where God resides gives life to the body.

We must tame our evil self, which otherwise would destroy the kingdom of God. We humans are wired for God and all we have to do is plug ourselves into the electrical outlets and turn the switch on by standing for prayer.

We must recognize God’s presence within us and with us, but the material world prevents us from surrendering to Him.

Another factor that prevents us from surrender is human arrogance. We must be humble, realizing that all we have achieved, our wealth, power, knowledge and physical strength, are gifts from God.

When we close our hearts to others, our eyes are closed to see the beauty of God in them. The message of Islam, Judaism, Christianity and all other religions is one of love and service to others.

If God decides to care and love and feed even those who deny his existence, then who are we to deprive someone else of our love just because he is of different color or speaks a different language or is born in a different country or prays to the same God but in a different direction, using different words?

We must try to transcend the barriers among humans so that we break the barriers between humans and God. We must see ourselves in others and we must see God in each of us. We must love others in order to be loved by God, and we must enter into surrender peacefully, willingly and wholeheartedly.

Shahid Athar M.D. is Clinical Associate Professor of Internal Medicine and Endocrinology, Indiana University School of Medicine Indianapolis, Indiana, and a writer on Islam.

http://www.islamfortoday.com/athar14.htm

* Wanita Adalah Makhluk Terindah…

WANITA ADALAH MAKHLUK TERINDAH…

بسم الله الرحمن الرحيم

Wanita adalah makhluk terindah yang diciptakan Allah Ta’ala, namun juga fitnah terbesar bagi lelaki. Wajahmu adalah fitnah bagi lelaki. Telapak tanganmu dapat membuka fitnah bagi lelaki. Suaramu pun dapat membuka fitnah bagi lelaki yang hatinya berpenyakit. Sebahagian Ulama ada yang berpendapat suara wanita adalah aurat, namun sebahagian lagi tidak sebagaimana dalam Al-Qur’an,

“Wahai isteri-isteri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah-lembutkan suara) [677] dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, [678] dan ucapkanlah perkataan yang baik.”

[677] Berbicara dengan sikap yang menimbulkan orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.

[678] Orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan perempuan seperti melakukan zina.

[QS. Al-Ahzab (33):32]

Suara wanita adalah aurat jika dilemah-lembutkan dan dapat menimbulkan syahwat atau hal-hal yang tidak baik pada lelaki yang berpenyakit hatinya, wallahu a’lam.

Hanya suamimu saja yang berhak menikmati keindahanmu, keindahan yang Allah Ta’ala berikan pada makhluk bernama wanita. Kemuliaan seorang wanita itu ada di dalam rumahnya, bukan di luar rumah, bukannya bermudah-mudahan berinteraksi dengan ikhwan ajnabi (ikhtilat dan sebagainya). Maka, bersyukurlah engkau wahai wanita yang dapat menjaga kesucian dirinya hanya untuk suamimu. Islam telah memuliakan wanita maka jangan kau hinakan dirimu sendiri.

<Ummu Zahratin Nisa Lathifah @ http://thalibatun.blogspot.com/>

♣ Ya Akhi Tidakkah Engkau…

YA AKHI TIDAKKAH ENGKAU…

بسم الله الرحمن الرحيم

Ya akhi, tidakkah engkau cemburu bila isterimu berbicara bebas di ‘Facebook’ dengan ikhwan lain? Tidakkah engkau cemburu mendapati ada akaun ikhwan di ‘friend list’ isterimu? Tanyakan pada hatimu, apakah engkau cemburu? Apakah engkau rela isterimu bercanda dengan ikhwan lain? Jika engkau cemburu, jika kau tidak rela maka mulailah dengan dirimu untuk tidak meng’add’ akhwat lain selain isterimu, janganlah kau bicara dengan bebas pada akhwat lain, fikirkanlah isterimu. Bukankah dalam kehidupan nyata pun engkau begitu menjaga pandangan dan begitu menjaga maruah serta ‘iffahmu? Lalu kemanakah perginya itu semua ketika kau membuka internet? Kemanakah rasa malamu ya ikhwan?

Jangan berdalih, kau akan kuat tidak akan terkena fitnah nantinya kerana,

“…manusia diciptakan (bersifat) lemah.”

[QS. An-Nisaa' (4):28]

Milikilah sifat malu, kerana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.”

[HR. Bukhari:6117 dan Muslim:37 dari Imran bin Hushain]

إذا ما خلوت بريبة في ظـلمـة
و النـفـس داعية إلى طغيان
فاسحي من نظر الإله و قال لهـا
إنّ الـذي خلق الظـلام يراني

Apabila engkau menyepi dengan keraguan dan kegelapan,
dan nafsu mengajak untuk kemaksiatan,
malulah dari pandangan Allah Ta’ala dan katakan kepadanya,
sesunggunya pencipta kegelapan akan melihatku.

[Dalam kitab كيف تتحمس لطلب العلم الشرعي, karyaأبو القعقاع محمد بن صالح بن إسحاق الصيعري, penerbit فهرسة مكتبة الملك فهد الوطنية أثناء النشر (cetakan III, tahun 1420, halaman 108)]

Ada sebuah kaedah yang sangat bagus dan perlu diingat tentang kaedah Sadduz ‘Dzariah, Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitab: إغاثة اللهفان من مصايد الشيطان / Ighatsatul Lahfaan Min Mashaayidis-Syaithaan.

الشارع حرم الذرائع و إن لم يقصد بها المحرم لإفضائها إليه

Syariat mengharamkan segala sarana yang bisa menghantarkan pada hal yang haram, meskipun ketika memanfaatkan sarana tersebut tidak diniatkan untuk berbuat haram.

“Aku memberi wasiat kepadamu dengan wasiat yang harus kau jaga. Janganlah engkau berdua-duaan dengan wanita bukan mahrammu walaupun batinmu berkata bahawa kau akan mengajarkannya Al-Qur’an.”

[Lihat kitab حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, V/272]

Fatwa Ulama: Hukum Facebook (tentang berteman dengan lawan jenis di ‘Facebook’)

http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Syaikh%20Dr%20Sulaiman%20Ar-Ruhaili/Tanya%20Jawab

Teruntuk untuk saudariku akhwat,

“Wahai wanita, jangan terlalu banyak bicara dan memperlihatkan dirimu di depan umum, namun bersegeralah bersembunyi dari para ikhwan kerana kehormatanmu sangat berharga bagi suamimu. Jangan khianati suamimu (kelak) sebelum pernikahanmu datang. Suamimu itu menunggu dirimu dengan harapan bahawa engkau adalah wanita yang harg dirinya tidak ternilai. Kau wanita tersembunyi dan hanya sumimu yang dapat melihatmu. Kau wanita yang mulia dan hanya suamimu yang dapat menikmati kemuliaan itu.”

Teruntuk saudariku ikhwan,

“Maka, biarlah kami para akhwat saling menasihati dengan sesama akhwat dan anda saling menasihatilah dengan ikhwan, kerana itulah fitrahnya. Jangan anda merasa sombong seolah tidak akan terkena fitnah nantinya kerana kita pun sebenarnya turut andil dalam fitnah tersebut. Dua fitnah besar yang masuk secara halus dan tidak terasa namun dia akan menyambar-nyambar dengan kerasnya dan sulit untuk keluar darinya apabila fitnah itu telah masuk ke dalam hati dan fikiran kita sehingga dapat menimbulkan sulitnya ilmu syar’i masuk ke dalam diri kita, iaitu fitnah syubhat dan syahwat. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari fitnah syubhat mahupun syahwat, allahumma aamiin.”

<Ummu Zahratin Nisa Lathifah @ http://thalibatun.blogspot.com/>

* Wahai Para Suami Isterimu…

WAHAI PARA SUAMI ISTERIMU…

بسم الله الرحمن الرحيم

“Wahai para suami, isterimu adalah mahkotamu, titipan dari Allah Ta’ala khusus untukmu yang harus kamu jaga. Jangan sampai lelaki lain memakai mahkotamu atau ikut menikmati indahnya mahkotamu. Sungguh pilu hati ini tatkala melihat seorang suami membiarkan isterinya menjadi santapan pandangan mata-mata nakal para lelaki, ikut menikmati keindahan tubuhnya, ikut tergiur memandang paras cantiknya, dimanakah kecemburuanmu? Ataukah engkau bangga jika kecantikan mahkotamu dilihat banyak lelaki? dan bangga jika mahkotamu ikut menggairahkan para lelaki?. Ingatlah, Allah Ta’ala akan meminta pertanggung jawabanmu kelak”

<Copas dari status Ustadz Firanda Andirja melalui http://muslimah.or.id>